HEADLINE TOPIK:
LANDORUNDUN: dari Ulelean Pare Menjadi Novel
Rabu,3 Oktober 2012 | 12:06 WITA |
toraja2
Ilustrasi (int)

Barangkali, anak-anak kecil di Toraja tak lagi familiar dengan istilah ulelean pare. Sebuah tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun melalui beragam cerita yang sarat makna dan pesan-pesan hidup.

Ada cerita tentang Tulang Didi’ yang hidup kembali dari kematian setelah ‘ditolong’ oleh seekor ayam jantan yang kemudian membawanya terbang ke bulan.

Juga, kisah-kisah fabel seperti Seba sola Wati (Monyet dan Larva Kumbang), Seba sola Balao (Monyet dan Tikus), Sokko Mebali (Kerbau bertanduk menghadap tanah yang bisa berbicara), dan banyak lagi.

Ulelean pare secara harfiah bisa diterjemahkan menjadi ‘obrolan padi’ ini kemudian menjadi dasar bagi Rampa’ Maega untuk menulis sebuah novel yang berjudul Landorundun. Selain berisi kisah utuh dari versi lisan cerita aslinya yang diwariskan turun-temurun, Landorundun juga berkisah tentang Kinaa Landorundun, perempuan berdarah Australia-Indonesia yang tak pernah menduga jika nama belakangnya terkait dengan sebuah cerita rakyat Toraja.

Tidak hanya karena kesamaan nama, tapi juga sekelumit kisah yang telah ratusan tahun menjadi sebuah rahasia. Perkenalannya dengan seorang pemuda Toraja bernama Bendurana lewat jejaring facebook membawa Kinaa menjelajahi eksotisme Toraja beserta peristiwa-peristiwa masa lalu yang ternyata masih berhubungan dengan masa lalunya sendiri. Kedua kisah ini – modern dan klasik – kemudian saling mengisi membentuk jalinan cerita yang terbentang dari Toraja hingga Australia.

Novel setebal 250 halaman ini ditulis selama kurang lebih 3,5 tahun, termasuk proses riset yang melibatkan beberapa tokoh adat dari berbagai kampung di Toraja, seperti Sesean, Sa’dan, dan La’bo’. Sebagai sebuah bentuk kekaguman penulisnya kepada cerita-cerita rakyat, Landorundun merupakan sebuah bentuk adaptasi terhadap cerita rakyat Toraja dengan judul yang sama.

Ada harapan agar melalui novel ini, generasi muda Toraja dapat kembali mengenali cerita-cerita rakyat kampung halaman, yang dulu hanya dikisahkan secara lisan dari generasi ke generasi. Dan untuk konteks yang lebih luas, semoga Landorundun – juga cerita-cerita rakyat Toraja lainnya – dikenal pula oleh masyarakat Indonesia secara umum, untuk ‘bersanding’ dengan Loro Jonggrang, Sangkuriang, dan Malin Kundang.

Salah satu tokoh masyarakat Toraja, Jonathan Para’pak, memberi apresiasi terhadap novel pertama dari Rampa’ Maega ini. Di sampul depan novel ini, Pak Para’pak memberikan endorsement seperti berikut: “Landorundun adalah karya yang patut dan harus kita baca dan beri penghargaan yang tinggi. Dalamnya kita menikmati legenda tradisional yang disandingkan dengan kehidupan modern. Karya ini mengedepankan nilai-nilai luhur budaya Toraja yang harus kita lestarikan dalam kehidupan modern. Semoga buku ini dinikmati oleh orang Toraja dan masyarakat luas.”

Tino Saroengallo, penulis buku ‘Ayah Anak Beda Warna! Anak Toraja Kota Menggugat, ikut pula memberikan endorsement untuk novel ini. Juga, seorang novelis nasional bernama Tasaro GK yang sudah menghasilkan belasan novel, seperti Galaksi Kinanthi dan Muhammad; Lelaki Penggenggam Hujan.

Redaksi menerima komentar terkait berita atau siaran pers yang ditayangkan. Isi komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
  • modern cell