HEADLINE TOPIK:
Lioka, Kampung Tua Suku Padoe
Dua Jalan, Dua Kisah
Selasa,24 Februari 2015 | 22:54 WITA | Eko Rusdianto
Jalan menuju Kampung Lioka yang dihuni masyarakat Suku Padoe yang tertinggal secara infrastruktur dan terkesan dilupakan (Eko Rusdianto)
  • Kampung Lioka di Kecamatan Towuti, adalah wilayah sunyi. Deretan pegunungan Verbeek seperti hendak mengurungnya. Jalannya berangkal batu dengan rumput-rumput liar di setiap sisi. Ada juga jembatan yang sudah rubuh.

    Sekitar 30 kilometer dari Lioka, ada desa Sorowako bergeliat dengan cepat. Di sana ada sekolah bertaraf internasional, ada pusat perbelanjaan, dan tentu penataan perumahaan yang baik. Perekonomian Sorowako ditopang oleh pabrik nikel PT Vale yang berdiri sejak tahun 1968, mempekerjakan ribuan karyawan dari berbagai penjuru negeri.

    Namun jarak yang dekat, sepertinya tak berimbas pada tetangganya. Lioka tetap menjadi kampung yang dikelilingi kebun, petak sawah dan empang air tawar. Di pedalaman hutan pun tak ada lagi damar. Padahal, pada masa awal beroperasinya PT Vale, Lioka menjadi wilayah perlintasan truk-truk besar untuk mengangkut Silika. Karena itu jugalah, perusahaan memberikan kompensasi pembangunan jalan beraspal di tengah kampung sepanjang 800 meter. Selebihnya adalah jalan batu.

    Tak hanya itu, ada tower listrik raksasa milik perusahaan membelah kampung. Berdiri dengan kuat. Mencengkram kaki gunung dan bahkan berdiri tepat didepan gua pemakaman leluhur. “Dulu jika ada karyawan yang memotret tower listrik yang ada depan gua pemakaman itu, maka akan langsung kena pecat. Kami tak tahu kenapa ada kebijakan semacam itu,” kata Ali Bastian, ketua adat Padoe wilayah Lioka.

    Lioka adalah kampung tua yang dihuni oleh masyarakat dari suku Padoe. Saat ini ada ratusan kepala keluarga bertahan di kampung itu. Selebihnya menyebar ke beberapa wilayah. Pada masa pemberontakan Darul Islam / Tentara Islam Indonesia (DI/TII) pimpinan Kahar Muzakkar tahun 1950-1965 masyarakat Padoe yang menganut agama Nasrani dipaksa untuk memeluk islam.

    Dan ketika pemborantakan DI/TII berakhir, berangsur-angsur masyarakat Padoe kembali ke kampung halaman. Ali Bastian dan keluarganya adalah gelombang kedua yang datang akhir tahun 1960-an. “Kami mulai membangun rumah-rumah sederhana. Mengunjungi kebun yang berantakan. Dan memulai kembali kehidupan,” katanya.

    Dan pada tahun 1970 awal, perusahaan mulai membuka jalur baru untuk jalan logistik yang menembus Malili menuju pelabuhan Balantang. Rutenya dari Malili (ibu kota Kabupaten Luwu Timur) menerobos hutan di kaki-kaki gunung Karebbe, melintasi Balambano, desa Togo, Wasuponda, dan lurus mendaki wilayah Asuli, memotong di Gunung Hasan menuju pabrik di Sorowako.

    Sementara jalur utama pada masa awal adalah dari Malili, memutar ke wilayah Ussu, menembus Kawata, kemudian ke desa Wasuponda, dilanjutkan ke desa Tabarano, melintasi Lioka, menuju Timampu dan kemudian ke Sorowako.

    Ada juga jalur cepat yang ditempuh masyarakat Sorowako, Timampu, Lioka dan Wasuponda, saat hendak menjual damar ke Malili. Yakni melalui Tabarano, memotong ke desa Togo, dan menembus hutan di desa Balambano, kemudian ke Karebbe dan akhirnya Malili. Jarak tersebut ditempuh dengan berjalan kaki selama dua hari.

    Tapi jalur utama dan jalur cepat itu kini hanya menjadi kenangan. Jalur baru yang dibuka perusahaan PT Vale membuat sejarah dan kenangan kampung terkubur selamanya. Jika demikian mari melihat perbandingan dari dua jalur itu. Dari Wasuponda menuju Sorowako dan dari Wasuponda menuju Tabarano, Lioka dan Timampu.

    Saat ini, jika Anda berjalan dan mencoba melintasi jalur dari Wasuponda menuju Tabarano sebaiknya menggunakan sepeda motor trail atau mobil dengan kemampuan jelajah yang tangguh. Jalannya penuh batu besar, tanah liat yang lengket dan kubangan air. Bahkan dalam keadaan hujan, kendaraan bisa saja terjebak dan jalan sangat sulit dilalui.

    Jika Anda menganggap itu petualangan, tentu tak berhenti di Tabarano. Jalan menuju Lioka tak kalah menantangnya, pecahan-pecahan batu yang tajam menonjol di sepanjang jalan. Jurang yang curam berada di sisi kiri dan tentu kubangan air.

    Tapi itu cerita masa lalu, jaman telah berubah. Infrastruktur bertambah baik. Dan ketika Anda berada di wilayah Kecamatan Wasuponda, hanya perlu waktu sekitar 15 menit untuk menjangkau Sorowako. Namun, jika cukup bernyali cobalah sekali-sekali manapaki jalan utama penuh sejarah, yakni berbelok menuju Tabarano. Tak ada rumah penduduk yang dilewati, semuanya sepi. Belukar dan sisa galian dari penambangan Silika adalah pemandangan yang lazim.

    Sementara dari Lioka menuju Timampu, perjalanan dilalui dengan mudah. Hanya jalan yang berangkal batu dan hampir dipastikan tak ada kubangan air.

    Bagaimana dengan jalur yang dibangun perusahaan, dari Wasuponda menuju Sorowako. Tak perlu khawatir, kendaraan apapun yang digunakan akan mampu menjangkaunya. Jalanan beraspal mulus dan lebar.  Garis batas jalan, median dan bahu jalan lengkap. Hanya butuh sekitar 15 menit.

    Ali Bastian, menerawang jauh. Menyeruput segelas kopi di beranda rumahnya. “Seharusnya mereka tak melupakan kami. Sekarang kampung ini menjadi sepi, seperti mati,” katanya, sembari menunjuk jalan kecil di yang membelah kampung Lioka.

    Lioka bagi masyarakat suku Padoe adalah kampung tua. Di sana terdapat beberapa gua-gua pemakaman leluhur yang usianya puluhan hingga ratusan tahun. Ada peti yang berbentuk kerucut, ada tembikar yang berserakan.

    Penamaan gua pemakaman bagi orang Padoe adalah Puwesu. Namun, masyarakat pendatang di sekitar kampung mengenalnya sebagai gua tengkorak dan menjadikannya sebagai tempat yang angker. Penuh mitos dan tak dapat dijangkau tanpa sedikit ritual atau izin dari tokoh adat.

    Tradisi pemakaman masyarakat Padoe dipengaruhi oleh kepercayaan Melahumoa. Yakni, kepercayaan yang mengagungkan gunung, pohon, ataupun beberapa hal yang bersifat magis.

    Prosesi pemakaman masyarakat Padoe, membutuhkan waktu yang cukup lama. Pada mulanya jenasah dikeringkan dengan balutan tikar anyaman (ompeo). Dioleskan beberapa ramuan, kemudian diletakkan pada Tambeha (kayu silang yang tingginya sekitar 2 meter) untuk menjaga jenasah dari serangan binatang dan didiamkan hingga membusuk antara 1-2 tahun.

    Setelah daging dari jenasah rontok dan hanya meninggalkan tulang, keluarga melakukan prosesi ritual pemakaman dengan menggelar pesta dan menyembelih binatang. Tulang-tulang yang tersisa dimasukkan kedalam peti kecil berukuran 50 x 50 sentimeter dengan kepala berbentuk kerucut. Peti-peti itu dibuat dari kayu Mapute (kayu putih) atau kayu Polapi dan dihiasi dengan beberapa ukiran.

    Ali Bastian mengatakan, memasukkan jenazah ke dalam peti dan menempatkannya dalam Puwesu merupakan inti upacara pemakaman. Segala macam benda kerajinan, harta benda kesukaan mendiang, seperti parang, uang, emas, kain atau apa saja akan dimasukkan ke dalam peti. “Masyarakat kami percaya, arwah jenazah tidak akan meninggalkan Puwesu itu. Arwah itu tetap berada dalam gua, hingga sekarang,” katanya.

    Jalan menuju Puwesu adalah jalan berangkal batu dan setapak dengan tanah merah yang lengket. Tak ada penanda, satu-satunya candaan saya bersama Ali Bastian adalah tower listrik besar yang menghubungkan pabrik dengan PLTA Larona, tepat di depan mulut gua. “Kalau menarik kabel dari tower itu, kami mungkin bisa menerangi gua pemakaman,” katanya sembari tersenyum getir.

    Jelang pukul 18.00 saya meninggalkan kampung Lioka. Tak ada lampu jalan. Tak ada pula kebisingan. Kendaraan yang melintas saban hari bisa dihitung jari. Berbeda dengan jalan baru yang digunakan perusahaan, selama 24 jam selalu ramai. ()

    Redaksi menerima komentar terkait berita atau siaran pers yang ditayangkan. Isi komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.