HEADLINE TOPIK:

Kanal: Opini

OPINI | Menangis
Minggu,14 Juni 2015 | 14:31 WITA | Lukman Hamarong, PNS Kabupaten Luwu Utara
Menangis / Ilustrasi (int)

Tak ada satu pun manusia di dunia ini yang tidak pernah  mengeluarkan air mata, atau biasa kita sebut menangis. Respon fisik seseorang terhadap sesuatu yang berbau kesedihan biasanya ditumpahkan dengan mengeluarkan air mata. Buliran air mata yang jatuh dari kelopak mata menandakan bahwa ada respon terhadap gejolak di dalam hati yang bercampur antara perasaan sedih, panik, gelisah, galau dan merana atau refleksi dari perasaan takut akan sesuatu hal.

Menangis adalah pesan yang dikirim seseorang terhadap orang lain bahwa dirinya sedang mengalami kesedihan, dengan harapan ada respon positif atau feedback dari orang lain agar dirinya diperhatikan guna mendapatkan simpati, mendapatkan perhatian yang lebih, sehingga kesedihan tidak berubah menjadi ratapan yang berkepanjangan. Banyak tokoh atau figur besar yang pernah menangis di depan khalayak akibat ekspektasi yang tak kunjung terealisasi, atau harapan tak berbuah kenyataan.

Bagi pencinta bola, tangisan Andrea Pirlo di tengah lapangan di saat puluhan ribu penonton memadati Stadion Olympiade di Berlin adalah sinyal yang dikirim Pirlo lewat air mata bahwa dirinya merasakan kesedihan yang mendalam karena gagal membawa Juventus juara Liga Champion 2014/2015. Simpati pun datang dari orang-orang sekitarnya. Rekannya, Paul Pogba, mendekati Pirlo lalu merangkulnya, sembari mencoba menghentikan air mata Pirlo. Bukan hanya Pogba, Xavi Hernandez yang notabene adalah rivalnya, pun mencoba membuat Pirlo tegar. Arsitek tiki taka itu mencoba membuat Pirlo tersenyum.

Ini baru contoh kecil di mana seseorang menangis karena dilanda kesedihan. Jauh sebelumnya, Gabriel Batistuta, legenda Argentina, juga mengalami hal serupa. Bahkan dibanding Pirlo, tangisan Batistuta malah bermakna ganda. Ada apa gerangan? Striker berjuluk Batigol itu ?membunuh? mantan klub yang membesarkan namanya, Fiorentina, dengan satu kali tembakan. Gawang Fiorentina jebol oleh mantan pahlawannya itu. Batigol yang kaya selebrasi  ketika mencetak gol, tiba-tiba terdiam, bahkan dia menitikkan air mata. Striker berambut gondrong itu pun menangis.

Menangis karena satu golnya itu membuat Fiorentina tumbang. Dia juga menangis tentu karena bahagia membawa klub barunya, AS Roma, menang, sehingga berujung pada raihan gelar Scudetto 2000/2001. Inilah gelar satu-satunya Batigol di ajang Serie-A setelah sembilan musim membela panji Fiorentina. Kejadian di mana seorang pemain menangis memang jamak terjadi. Eric Abidal pun pernah melakukannya ketika membela Barcelona. Carles Puyol dan Xavi pun demikian. Dua legenda ini menangis di acara perpisahan dengan klubnya, Barcelona. Puyol setahun yang lalu, Xavin tahun ini.

Adalah lumrah ketika seseorang menangis karena sedih. Namun demikian, berbicara tentang menangis, tidak melulu berbicara tentang kesedihan dan tragedi. Menangis bisa juga menjadi sinyal kebahagiaan, kesenangan dan kegembiraan. Menangis terharu biasanya dirasakan seseorang ketika mendapat anugerah yang luar biasa, sehingga hatinya tak dapat membendung perasaan senang yang begitu dominan menggelayuti jiwanya. Hatinya yang senang pun takluk oleh air mata yang tak dapat ia bendung dari kelopak matanya. Air mata yang keluar adalah pesan kebahagiaan.

Semalam, warga Masamba larut dalam tangis kebahagiaan. Mereka bersuka cita, saling berangkulan, cipika-cipiki, serta ada juga yang sujud syukur merayakan kemenangan.  Salah satu aset Luwu Utara, Evi Masamba (nama panggung), berhasil keluar sebagai juara pertama di ajang pencarian bakat, Dangdut Academy Jilid 2. Tidak tanggung-tangggung, Gubernur Sulawesi Selatan, Syahrul Yasin Limpo, turut hadir langsung memberi semangat kepada Evi. Gubernur yang akrab disapa Komandan ini bahkan mengungkapkan, 3000-an Kepala Desa di Sulsel siap memenangkan Evi. Sang calon bintang biduanita berparas eksotik ini pun banjir hadiah sebelum diumumkannya sang pemenang. Belum menang saja sudah banjir hadiah, apalagi menang.

Dan benar saja, Evi berhasil mengungguli Danang lewat persentase SMS tertinggi, 54 persen lebih. Alhasil, banjir pun terjadi. Banjir hadiah dan banjir air mata. Para pendukung Evi di Studio 5 Indosiar pun ?meledak.? Suasana hening seketika menjadi riuh kala Ramzi, Irfan, Andika,  dan Rina menyebut nama Evi sebegai pemenang. Panggung dikuasai Evi. Wajahnya terlihat sedikit lelah tetapi ia tutupi dengan senyum dan tangis kebahagiaan. Keluarganya pun bersatu di atas panggung megah itu. Evi menangis tapi tidak meringis. Evi menangis karena dukungan SMS dari Indonesia yang memilihnya. Jangan malu menangis, karena mata yang menangis pertanda hati bersih dan jernih. Mungkin di situlah kekuatan Evi selama ini. Wajahnya tak pernah kering oleh air mata setiap kali konser, yang membuat pita suaranya bersih dan suara yang keluar dari mulutnya pun menjadi jernih dan bening.

Sebelum saya tutup, ada tangis kesedihan yang melanda bangsa ini. Apa itu? Tidak jauh-jauh dari olah raga. Ya, sepak bola Indonesia berduka. Pemain, pelatih, dan penonton pun menangis. Semua menangis, dan Indonesia menangis. Sanksi FIFA dan pembekuan PSSI yang menyebabkan Indonesia menangis. Inilah tangisan yang seharusnya tidak boleh ada. Sepak bola tidak hanya sebagai permainan di atas rumput, tetapi juga ladang mencari nafkah bagi pemain. Sepak bola tidak hanya sekadar hiburan, tetapi juga lapangan kerja buat pemain. Ketika ladang mereka diamputasi, ke mana lagi mereka mengisi periuk nasi keluarganya? Mari menangis. Menangis bukan berarti cengeng, tetapi menangis bisa menjadi kekuatan untuk meraih kesuksesan.

 

 

 

Redaksi menerima komentar terkait berita atau siaran pers yang ditayangkan. Isi komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.