HEADLINE TOPIK:
Ibu-Ibu Ini Buktikan Pangan Lokal Bukanlah Makanan Rendahan
Jumat,14 Oktober 2016 | 01:43 WITA | Lukman Hamarong
Sejumlah ibu rumah tangga yang tergabung dalam kelompok Sikarampa, Desa Kampung Baru, Kecamatan Sabbang, kabupaten Luwu Utara mengikuti Demo Pengolahan Pangan Lokal, oleh Badan Ketahanan Pangan Daerah, Provinsi Sulawesi Selatan

Sejumlah ibu rumah tangga yang tergabung dalam kelompok Sikarampa, Desa Kampung Baru, Kecamatan Sabbang, kabupaten Luwu Utara mengikuti Demo Pengolahan Pangan Lokal, oleh Badan Ketahanan Pangan Daerah, Provinsi Sulawesi Selatan, Kamis (13/10/16).

Dalam demo tersebut, para ibu ini membuktikan jika pangan local bukanlah makanan orang rendahan saja, melainkan sudah menyentuh hingga kelas menengah ke atas.

Kepala Bidang Keamanan dan Konsumsi Pangan dan Gizi Badan Ketahanan Pangan dan Pelaksana Penyuluhan (BKP3) Luwu Utara, Muhammad menegaskan bahwa makanan yang berasal dari olahan pangan lokal bukan lagi makanannya orang-orang rendahan saja.

Penegasan itu disampaikan Muhammad dengan munculnya stigma bahwa olahan pangan lokal adalah makanan yang dikonsumsi oleh orang-orang kelas bawah, bukan konsumsi para elit atau orang-orang kaya.

“Kalau dulu pangan pokok kita itu dianggap inferior, dianggap sangat tradisional, hanya dimakan oleh orang rendahan saja,  sekarang malah terbalik. Dengan sentuhan teknologi, kemudian diolah menjadi makanan yang bermutu, yang sudah tentu tidak kalah enaknya dengan makanan yang berasal dari beras atau terigu, justru sekarang orang kaya yang mencari olahan pangan lokal,” ujar Muhammad.

Muhammad menambahkan, demo pengolahan pangan lokal yang dilalukan di kelompok penerima bantuan Model Pengembangan Pangan Pokok Lokal (MP3L),  adalah upaya pemerintah mendorong masyarakat untuk senantiasa melestarikan pangan lokal melalui jalan mempromosikan, mengelola, memproduksi, dan mengkonsumsi sendiri hasil olahan tersebut.

Semua maksud tersebut, kata Muhammad, tiada lain untuk menekan konsumsi beras masyarakat yang sudah sangat tinggi.

“Acara kita ini kita lakukan dalam rangka bagaimana kita mempromosikan, mengelola, memproduksi, dan mengkonsumsi sendiri olahan panmgan lokal kita, sehingga bisa mengurangi konsumsi beras,” ungkap pria yang akrab disapa pak haji ini.

Sementara itu, Kepala Seksi Pengembangan Pangan Lokal BKPD Sulsel, yang juga Ketua Tim MP3L Provinsi, Muliwarni Muqarram, meminta masyarakat, khususnya para ibu wanita tani, untuk selalu kreatif menghasilkan olahan pangan lokal yang bermutu dan bernilai ekonomis, serta memenuhi unsur B2SA, yakni beragam, bergizi, seimbang dan aman.

“Yang kita harapkan di sini adalah bagaimana ibu-ibu itu mampu menunjukkan kreativitasnya dalam menciptakan olahan pangan lokal yang memenuhi unsur B2SA, beragam, bergizi, seimbang dan aman. Beragam menjadi syarat mutlak karena Luwu Utara ini kaya akan pangan alternatif  selain beras. Misalnya jagung, bisa kita olah menjadi susu jagung dan nasi jagung,” pungkas Muli, sapaan akrab wanita berkacama tersebut.

Dalam demo pengolahan pangan lokal, dua jenis olahan yang dibuat di rumah ketua kelompok tani sagu Sikarampa itu adalah mie sagu dan mpe mpe singkong. Tim kabupaten dan provinsi juga menyiapkan beberapa resep olahan lain sebagai upaya memperkaya wawasan ibu-ibu dalam memproduksi olahan pangan yang banyak tersedia di bumi Luwu Utara.

Redaksi menerima komentar terkait berita atau siaran pers yang ditayangkan. Isi komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
  • Hirfan-PU