HEADLINE TOPIK:
Minim Pembeli, Iwan Harap Pemda Perhatikan Perajin Tenun Wasuponda.
Jumat,11 Mei 2018 | 22:52 WITA | Tom
Ilustrasi (int)
  • BERITA TERKAIT

    Ekonomi Kreatif sedang digalakkan warga Luwu Timur dari Kelompok UKM Sikamali asal Kecamatan Wasuponda.

    Menggunakan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM), kumpulan perajin tenun yang beralamat di jalan Sangkis Kecamatan Wasuponda ini menghasilkan beragam kain tenun untuk keperluan adat Suku Toraja.

    Kain tenun tersebut diolah kemudian dijahit menjadi baju adat Suku Toraja. Kisaran harga kain tenun bervariasi, mulai 350 ribu hingga 3 jutaan.

    Ketua Komisi II DPRD Luwu Timur Iwan Usman yang mengunjungi Usaha Kerajinan Tenun tersebut mengatakan permasalahan yang kini dihadapi kerajinan ini yakni membutuhkan pemasaran lebih luas. Diharapkan pemerintah daerah dapat membantu permasalahan produksi kain tenun kelompok UKM Sikamali yang saat ini belum banyak dikenal luas, dengan pelanggan yg terbatas.

    “Ini merupakan PR (Pekerjaan Rumah) pemda untuk membantu UKM – UKM dalam ekspansi pasar hasil produk mereka,” jelas Iwan di Sentra Kerajinan Tenun Sikamali, Wasuponda. Jumat (11/5/2018).

    Kata Iwan, saat kunjungan para penenun menceritakan bahwa hasil tenunan mereka pernah mencuri perhatian Pemkab Toraja dengan memesan beberapa helai, begitu pula Pemkab Luwu Timur pernah meminta beberapa helai hasil tenun untuk diikutkan pameran, namun saat ditanya lebih lanjut, tidak ada kabar dari pameran tersebut.

    “Pemda kita harapkan hadir dalam pendampingan, sehingga usaha mereka diharapkan akan lebih berkembang,” tutur Iwan.

    Adapun kain tenunan yang diproduksi antara lain Tenun pamiring, tenun pa’bintik, dan tenun paroki. Perajin selama ini memasarkan produk mereka dengan memanfaatkan jaringan instansi perkantoran, keluarga di luar daerah, dan pertemanan.

    Redaksi menerima komentar terkait berita atau siaran pers yang ditayangkan. Isi komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.