Deru mesin memecah hamparan sawah di Kecamatan Kalaena, Kabupaten Luwu Timur, Jumat (26/6/2026). Lumpur beterbangan setiap kali roda berputar, sementara sorak-sorai penonton mengiringi para pembalap yang saling berebut menjadi yang tercepat di lintasan berlumpur.
Pemandangan itu bukan balapan motor trail ataupun motocross. Kendaraan yang berlaga justru ojek gabah, sepeda motor yang sehari-hari membantu petani mengangkut hasil panen dari sawah.
Selepas musim panen, kendaraan yang biasanya bergelut dengan karung-karung gabah itu berubah menjadi bintang utama pesta rakyat. Warga berbondong-bondong memadati Pelataran Balai Penyuluh Kecamatan Kalaena untuk menyaksikan Pesta Rakyat Balap Ojek Gabah Ronggeng Racing Team Part 1 yang berlangsung hingga 28 Juni 2026.
Sebanyak 60 pembalap dari berbagai daerah ambil bagian pada kelas motor 110 cc standar muatan lokal. Mereka memperebutkan total hadiah senilai Rp40 juta dalam perlombaan yang menjadi salah satu hiburan paling dinanti masyarakat usai panen raya.

Tradisi yang Tumbuh dari Sawah
Tidak banyak warga yang mengetahui secara pasti kapan balap ojek gabah pertama kali digelar. Tradisi itu tumbuh secara alami dari kehidupan para petani yang setiap musim panen menggunakan ojek gabah untuk mengangkut hasil panen keluar dari areal persawahan.
Di sela-sela aktivitas tersebut, para pengemudi ojek gabah kerap saling memacu kendaraan di jalur sawah. Adu kecepatan itu awalnya berlangsung spontan sebagai hiburan selepas bekerja, tanpa lintasan khusus maupun aturan perlombaan.
Seiring waktu, masyarakat semakin dekat dengan kebiasaan itu. Warga mulai berkumpul untuk menyaksikan para pengemudi ojek gabah menguji kecepatan dan ketangkasan mengendalikan motor di lintasan berlumpur.
Dari kebiasaan sederhana itulah tradisi balap ojek gabah perlahan berkembang menjadi pesta rakyat. Kini, perlombaan tersebut tidak hanya menjadi hiburan usai panen raya, tetapi juga menjadi ruang berkumpulnya masyarakat, pelaku UMKM, serta komunitas otomotif dari berbagai daerah.
Meski terlihat lebih teratur melalui penyelenggaraan resmi, balap ojek gabah tetap mempertahankan identitasnya sebagai tradisi yang lahir dari kehidupan petani. Kendaraan yang sehari-hari mengangkut gabah tetap menjadi pemeran utama, sementara hamparan sawah masih menjadi panggung yang membedakannya dari balapan pada umumnya.

Diusulkan Jadi Agenda Tahunan
Bupati Luwu Timur, Irwan Bachri Syam, yang membuka kegiatan tersebut memberikan apresiasi kepada panitia dan masyarakat yang berhasil mempertahankan tradisi unik tersebut.
Sebagai bentuk dukungan, Irwan menambah hadiah perlombaan berupa dua unit sepeda motor.
“Panitia awalnya mengusulkan satu unit motor sebagai hadiah. Pemerintah daerah menambah satu unit lagi. Kami ingin kegiatan seperti ini terus berkembang karena mampu menghadirkan hiburan sekaligus menggerakkan ekonomi masyarakat,” kata Irwan.
Ia berharap Balap Ojek Gabah tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi terus menjadi agenda tahunan yang mampu menarik lebih banyak peserta maupun pengunjung.
Irwan bahkan mengusulkan agar penyelenggara menambah kategori perlombaan pada tahun-tahun berikutnya.
“Kalau bisa nanti ada dua kelas, yaitu balap ojek gabah dan balap traktor. Saya yakin kegiatan ini akan semakin menarik dan menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat,” ujarnya.
Bagi warga Kalaena, balap ojek gabah bukan sekadar perlombaan mencari pembalap tercepat. Tradisi ini menjadi cara sederhana merayakan hasil panen, memperkuat kebersamaan, sekaligus menjaga identitas masyarakat agraris yang telah tumbuh selama bertahun-tahun.
Luwuraya berkomitmen untuk terus berdiri sebagai rumah informasi yang jujur dan objektif bagi masyarakat luas. Namun, kami tidak bisa berjalan sendirian. Kami memanggil semangat gotong royong khas kita. Jika hari ini berita kami pernah menemani, mengedukasi, atau memberi manfaat untukmu, sudilah kiranya meluangkan sedikit rezeki untuk "mentraktir kopi" tim di balik layar.

