INFOGRAFIS | Fakta Inflasi Palopo di Balik Insentif Rp2 Miliar

Asdhar
3 Min Read

Penghargaan terbaik kedua kategori pengendalian inflasi tingkat regional Sulawesi tahun 2026, yang membawa Kota Palopo meraih dana insentif Rp2 miliar dari pemerintah pusat memunculkan beragam tanggapan. Di tengah capaian tersebut, sebagian warga masih mengeluhkan harga kebutuhan pokok yang terasa mahal.

Lalu bagaimana sebenarnya kondisi inflasi di Palopo?

BACA JUGA: Berhasil Jaga Harga Tetap Stabil, Pemkot Palopo Dapat Insentif Rp2 Miliar

Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Palopo menunjukkan laju inflasi memang sempat mengalami tekanan tinggi pada awal 2026. Namun dalam dua bulan terakhir, angkanya mulai bergerak turun.

Pada Januari 2026, inflasi tahunan Palopo berada di level 4,14 persen.

Angka tersebut naik menjadi 5,14 persen pada Februari sebelum turun menjadi 2,81 persen pada Maret.

Kemudian, inflasi kembali melandai menjadi 2,21 persen pada April.

Artinya, tekanan harga memang sempat meningkat cukup tinggi pada Februari. Namun kondisi mulai membaik memasuki Maret dan April.

Bulan (2026)Inflasi YoYInflasi MtMInflasi Tahun Kalender
Januari4,14%0,37%0,37%
Februari5,14%0,49%0,86%
Maret2,81%0,20%1,06%
April2,21%0,47%1,54%
  • Februari = titik tekanan tertinggi
  • Maret–April = fase penurunan
  • Inflasi bulanan masih terjadi, tetapi lebih terkendali

Februari Jadi Periode Tekanan Harga Tertinggi

Berdasarkan data BPS, Februari menjadi bulan dengan inflasi tertinggi selama empat bulan pertama 2026.

Kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga menjadi penyumbang terbesar kenaikan harga saat itu.

Kontribusi kelompok tersebut mencapai 2,20 poin inflasi.

Namun situasinya berubah pada April.

Kontribusinya turun drastis menjadi hanya 0,02 poin.

Penurunan ini ikut mendorong melandainya inflasi Kota Palopo.

Harga Makanan Masih Paling Terasa

Meski inflasi mulai turun, tekanan harga pangan masih terasa.

Pada April 2026, kelompok makanan, minuman, dan tembakau masih menjadi penyumbang inflasi terbesar.

Beberapa komoditas yang paling banyak mendorong kenaikan harga meliputi:

  • Tomat (+0,34)
  • Es (+0,06)
  • Ayam goreng (+0,04)
  • Tempe (+0,03)
  • Bakso siap santap (+0,03)

Sementara beberapa komoditas justru membantu menahan inflasi:

  • Udang basah (-0,09)
  • Emas perhiasan (-0,09)
  • Angkutan antarkota (-0,06)
  • Daging ayam ras (-0,02)
  • Ikan kembung (-0,01)

Data tersebut menunjukkan inflasi Palopo tidak hanya dipengaruhi komoditas pokok, tetapi juga jasa, makanan siap saji, hingga biaya rumah tangga.

Kenapa Palopo Tetap Dapat Penghargaan?

Pemerintah pusat memberi penghargaan pengendalian inflasi tidak hanya berdasarkan murah atau mahalnya harga.

Penilaian juga mempertimbangkan konsistensi pelaporan, dukungan anggaran, efektivitas program, serta kemampuan menjaga stabilitas harga.

Dengan tren inflasi yang menurun dalam dua bulan terakhir, Palopo dinilai mampu menjaga tekanan harga tetap terkendali meski tantangan pangan masih terasa di lapangan.

Share This Article