LUWURAYA.COM — Kemarau mulai memberi tekanan terhadap masyarakat di sejumlah wilayah Luwu Raya. Di Kabupaten Luwu, personel TNI bersama pemerintah desa memperkuat pemantauan untuk mencegah kebakaran hutan dan lahan (karhutla), sementara di Kota Palopo, Kodim 1403 turun langsung membantu petani yang kesulitan mendapatkan air untuk sawah.
Dua langkah tersebut dilakukan untuk menghadapi dampak periode kering yang mulai terasa di lapangan, mulai dari berkurangnya ketersediaan air untuk pertanian hingga meningkatnya kewaspadaan terhadap potensi kebakaran lahan.
Kondisi tersebut juga berlangsung ketika monitoring BMKG menunjukkan sejumlah wilayah Sulawesi Selatan mengalami Hari Tanpa Hujan (HTH) kategori panjang hingga ekstrem.
Di Kabupaten Luwu, Babinsa Desa Kaili Sertu Ramuddin bersama Pemerintah Desa Kaili melakukan pemantauan karhutla di wilayah Desa Kaili, Kecamatan Suli Barat, Jumat (21/8/2026).
Pemantauan tersebut dilakukan sebagai bagian dari upaya berkelanjutan mencegah terjadinya kebakaran hutan dan lahan sekaligus memperkuat sinergi antara TNI dan masyarakat dalam menjaga lingkungan.
Langkah tersebut menjadi penting di tengah kondisi cuaca yang relatif kering. Lahan dan vegetasi yang kehilangan banyak kandungan air lebih mudah terbakar sehingga pencegahan perlu dilakukan sebelum muncul kejadian kebakaran.
Pemantauan juga memungkinkan potensi kondisi yang dapat memicu kebakaran diketahui lebih awal sehingga dapat segera diantisipasi bersama masyarakat dan pemerintah desa.
Di sisi lain, dampak kemarau terhadap ketersediaan air mulai dirasakan petani di Kota Palopo.
Di Kelurahan Takkalala, Kecamatan Wara Selatan, lebih dari 20 hektare areal persawahan mengalami kekurangan pasokan air.
Sebagian tanaman padi yang berusia sekitar 40–45 hari mulai menguning akibat kekurangan air. Petani yang selama ini mengandalkan air sungai juga menghadapi persoalan karena debit sungai terus menyusut.
Jarak sungai yang sekitar 100 meter dari areal persawahan membuat petani harus menggunakan pompa untuk mengalirkan air. Namun, karena banyak petani membutuhkan sumber air yang sama, mereka harus berbagi titik pengambilan air.
Untuk membantu mengatasi kondisi tersebut, Kodim 1403 Palopo bersama pemerintah daerah menurunkan kendaraan water tank untuk memasok air ke sejumlah titik persawahan.
Danramil 1403-06 Wara Kapten Inf Agus Purwono mengatakan langkah tersebut dilakukan setelah pihaknya menerima laporan masyarakat mengenai kekeringan sawah dan berkurangnya debit air.
“Kami setelah mendapat laporan dari masyarakat tentang kekeringan sawah karena kekurangan debit air, kami kolaborasi dengan pemerintah daerah untuk membantu masyarakat yang kekeringan dengan menggunakan water tank,” kata Agus.
Menurut Agus, distribusi air tidak hanya dilakukan di Takkalala. Pihaknya juga menerima laporan dari sejumlah kecamatan yang membutuhkan bantuan pasokan air untuk persawahan.
“Jadi kami dari pihak TNI Kodim 1403 Palopo, khususnya Koramil Wara dan Babinsa, berkolaborasi dengan pemerintah daerah dan Gapoktan, menyisir sawah yang kekeringan agar dalam pembagian air,” ujarnya.
Penyisiran dilakukan agar bantuan air dapat diarahkan ke areal persawahan yang paling membutuhkan.
“Jadi kami proaktif dalam hal pembagian air. Sekaligus bagaimana nanti ke depannya petani ini tidak gagal panen,” kata Agus.
Petani sekaligus pengurus Gapoktan, Bakri Gampu, mengatakan sebagian besar areal persawahan di wilayah tersebut terdampak kekeringan.
“Di sini perkiraan padi sawah di atas 20 hektare, sebagian besar mengalami kekeringan,” ujar Bakri.
BMKG: Kondisi Kering Masih Perlu Diwaspadai
Monitoring Hari Tanpa Hujan (HTH) Dasarian II Agustus 2026 menunjukkan kondisi HTH di Sulawesi Selatan didominasi kategori panjang hingga ekstrem. Dalam klasifikasi BMKG, HTH selama 21–30 hari masuk kategori panjang, 31–60 hari sangat panjang, sedangkan lebih dari 60 hari masuk kategori ekstrem.
BMKG juga memprediksi curah hujan Sulawesi Selatan pada Dasarian III Agustus atau periode 21–31 Agustus 2026 masih berada pada kategori rendah, dengan kisaran 0–20 milimeter.
Kondisi tersebut menunjukkan periode kering masih perlu diwaspadai. Dampaknya dapat berbeda di setiap wilayah, mulai dari berkurangnya pasokan air untuk pertanian hingga meningkatnya risiko kebakaran pada lahan dan vegetasi yang mengering.
Masyarakat di wilayah yang mengalami kondisi kering juga perlu meningkatkan kewaspadaan, menggunakan air secara bijak, serta menghindari aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran.
Luwuraya berkomitmen untuk terus berdiri sebagai rumah informasi yang jujur dan objektif bagi masyarakat luas. Namun, kami tidak bisa berjalan sendirian. Kami memanggil semangat gotong royong khas kita. Jika hari ini berita kami pernah menemani, mengedukasi, atau memberi manfaat untukmu, sudilah kiranya meluangkan sedikit rezeki untuk "mentraktir kopi" tim di balik layar.

