Tak banyak yang mengenal ikan pangkilang di luar Luwu Timur. Padahal, ikan endemik yang hidup di Danau Towuti itu telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setempat. Dari ikan itulah lahir Crispy Pangkilang, camilan khas yang kemudian menjadi “duta kecil” Bumi Batara Guru saat dibawa Aura Malaeka Putri Rizaldi ke ajang Putera Puteri Ekonomi Kreatif (Ekraf) Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat (Sulselbar) 2026.
Pilihan itu berbuah manis. Pelajar SMP Negeri 1 Towuti tersebut berhasil meraih Juara I Puteri Ekraf Sulselbar 2026 pada malam Grand Final yang berlangsung di Aula Utama STIEM Bongaya, Makassar, Minggu (28/6/2026). Tak hanya itu, Aura juga terpilih sebagai Best Favorite berkat penampilannya yang memikat dewan juri dan mendapat dukungan luas dari masyarakat.
Bagi Aura, kemenangan itu bukan sekadar pencapaian pribadi. Ia ingin menjadikannya sebagai penghormatan bagi kampung halamannya sekaligus ruang promosi bagi pelaku UMKM di Luwu Timur.
“Pencapaian ini saya persembahkan untuk Bumi Batara Guru dan tentu untuk seluruh pejuang UMKM yang ada di Luwu Timur. Semoga ini menjadi awal dari kebangkitan ekonomi kreatif dan UMKM di Luwu Timur,” katanya.
Ketika Towuti Bercerita Lewat Crispy Pangkilang
Pada tahapan karantina hingga presentasi, Aura memilih memperkenalkan Crispy Pangkilang sebagai produk unggulan yang mewakili daerahnya. Camilan gurih tersebut berbahan utama dari ikan pangkilang. Ikan ini adalah spesies endemik yang hanya hidup di Danau Towuti.
Di hadapan dewan juri, Aura tidak hanya menjelaskan cita rasa produk itu. Ia juga mengangkat kisah tentang kekayaan alam Danau Towuti, potensi ekonomi kreatif masyarakat, hingga peluang UMKM lokal berkembang melalui inovasi produk.
Presentasi tersebut mendapat apresiasi karena memadukan potensi sumber daya alam, kreativitas anak muda, dan semangat membangun ekonomi daerah. Bagi Aura, Crispy Pangkilang bukan sekadar camilan, melainkan cerita tentang identitas Towuti yang layak di kenal lebih luas.
Anak Muda Bukan Sekadar Penonton
Dalam sesi advokasi, Aura menyampaikan gagasan yang menjadi landasan perjuangannya di ajang tersebut. Menurutnya, kreativitas lahir dari keberanian melihat peluang di tengah keterbatasan.
“Melalui advokasi saya, program kreativitas Cermin Kaca Cembung, saya mengajak seluruh generasi muda untuk berhenti menjadi penonton di era digital ini. Mari kita ubah ide-ide liar kita menjadi karya nyata yang bernilai ekonomi,” ujarnya.
Ia menegaskan, generasi muda tidak boleh hanya menunggu kesempatan datang. Anak muda harus menjadi motor penggerak lahirnya inovasi yang mampu memberi nilai tambah bagi daerah.
“Anak muda bukan hanya masa depan, kita adalah penggerak ekonomi hari ini. Luwu Timur Juara, menginspirasi untuk negeri,” ucap Aura.
Kini, sebagai Duta Ekraf Sulselbar 2026, Aura mengemban tanggung jawab untuk mempromosikan potensi ekonomi kreatif Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat. Dalam waktu dekat, ia berencana kembali ke Luwu Timur untuk melaporkan capaian tersebut kepada Bupati Luwu Timur sekaligus menyampaikan berbagai programnya selama mengemban amanah tersebut.
Bagi pelajar asal Towuti itu, mahkota juara hanyalah awal dari perjalanan. Harapan terbesarnya sederhana, semakin banyak anak muda yang berani membawa cerita kampung halamannya ke panggung yang lebih luas. Sebab, dari sebuah produk lokal seperti Crispy Pangkilang, nama Towuti dan Luwu Timur dapat dikenal jauh melampaui tepian Danau Towuti.
Luwuraya berkomitmen untuk terus berdiri sebagai rumah informasi yang jujur dan objektif bagi masyarakat luas. Namun, kami tidak bisa berjalan sendirian. Kami memanggil semangat gotong royong khas kita. Jika hari ini berita kami pernah menemani, mengedukasi, atau memberi manfaat untukmu, sudilah kiranya meluangkan sedikit rezeki untuk "mentraktir kopi" tim di balik layar.

