Petani Di Lutim Terima Bantuan Rp13,2 M

Asdhar
2 Min Read

Kementerian Pertanian Republik Indonesia akan mengucurkan anggaran senilai Rp13,2 Miliar untuk 130 kelompok tani di Kabupaten Luwu Timur. Bantuan Sosial (Bansos) ini nantinya akan digunakan para kelompok tani untuk perbaikan jaringan irigasi.

Untuk mendapatkan dana tersebut, para petani harus membuka buku tabungan atau rekening kelompok karena anggaran ini nantinya akan langsung masuk ke rekening kelompok tani untuk diswakelolakan atau dikelola sendiri.

“Bantuan perbaikan jaringan irigasi dari Kementerian ini nantinya akan langsung masuk ke rekening kelompok tani masing-masing untuk dikelola sendiri,” ungkap Muhtar, Kepala Seksi (Kasi) Pengelolaan Lahan dan Air (PLA) dinas Pertanian Luwu Timur.

Menurutnya, perbaikan jaringan irigasi ini dengan harapan dapat membantu para petani untuk peningkatkan produksi. Secara nasional, kata Muhtar, peningkatan produksi padi minimal 0,3 Ton per hektarnya.

“Di Luwu Timur sendiri produksi padi sudah mencapai 6,7 Ton per hektarnya sehingga dengan adanya program 0,3 Ton ini diharapkan dapat mencapai 7,0 Ton per hektarnya,” ungkap Muhtar.

Dengan adanya bantuan ini, kata Muhtar, dapat menunjang kebutuhan air untuk 12.000 hektare sawah sementara luasan baku lahan persawahan di Luwu Timur ini sudah mencapai 25.100 hektare.

“Kelompok tani masih membutuhkan jaringan irigasi, secara umum, untuk peningkatan tingkat tersier maka perlu dilakukan pembenahan. Oleh karena itu, dana ini nantinya mereka (Kelompok tani) gunakan untuk membiayai kegiatan fisik irigasi,” ungkap Muhtar.

Disela-sela pengurusan buku tabungan, Ketua kelompok tani Sangian Sri, Desa Solo, Kecamatan Angkona, Komang Slamet yang ditemui mengaku bersyukur atas adanya bantuan dari pemerintah pusat tersebut.

“Program ini sangat bagus, sebelumnya perbaikan jaringan irigasi dilakukan dengan cara swadaya petani dengan adanya bantuan ini sangat meringankan beban petani,” ungkap Komang. (*)

Share This Article
Asdhar adalah jurnalis yang telah mengabdikan dirinya di dunia pers sejak 2007. Lebih dari sekadar profesi, jurnalistik baginya adalah ruang untuk merawat akurasi, menjaga nalar publik, dan memastikan setiap informasi sampai kepada masyarakat dengan jernih dan bertanggung jawab. Perjalanan kariernya ditempa di Harian Seputar Indonesia, sebelum kemudian memperluas cakrawala peliputan di Kompas TV. Pengalaman lintas platform ini membentuknya sebagai jurnalis yang adaptif, tajam dalam membaca isu, serta mampu menerjemahkan peristiwa kompleks menjadi informasi yang mudah dipahami tanpa kehilangan kedalaman. Dengan lebih dari satu dekade pengalaman, dia menempatkan integritas sebagai fondasi utama dalam setiap karya jurnalistiknya. Ia percaya bahwa media bukan hanya menyampaikan berita, tetapi juga membangun kepercayaan publik melalui konsistensi, keberimbangan, dan keberanian dalam menyuarakan fakta.