Yayasan Insan Mulia (YIM) bekerjasama dengan Dirjen Kesbangpol Kementerian Dalam Negeri menggelar Dikusi Publik dengan tema “membangkitkan kesenian daerah ditengah gempuran budaya asing dalam menjaga ketahanan nasional”. Dikusi publik ini diikuti organisasi pemuda, seniman, mahasiswa dan pelajar dengan narasumber Asisten Pemerintahan Setdakab Luwu Timur, Syahidin Halun dan pelaku budaya, Musly Anwar dipandu moderator, Gatot Riyanto Bakran yang berlangsung di Aula Kantor Camat Burau, Kamis 26 Juni 2014.
Asisten Pemerintahan. Syahin Halun mengatakan Budaya merupakan aset mahal dan berharga nilainya sebuah sebagai identitas yang harus dipertahankan. Salah satunya dengan cara meningkatkan minat pemuda terhadap seni tradisional.
“Yakin dan percaya, tanpa adanya keinginan pemuda untuk terus mempelajari dan meningkatkan minat terhadap seni tradisional maka seni tradisional kita akan hilang dan tergerus zaman,” jelasnya.
Dijelaskannya, dampak globalisasi terhadap keberadaan kesenian tradisional mengalami berbagai tantangan baik dari dalam maupun dari luar. Peristiwa ini, kata Syahidin, mau tidak mau akan berpengaruh besar terhadap keberadaan kesenian daerah. Padahal, kesenian tradisional merupakan bagian dari khasanah kebudayaan nasional yang
perlu dijaga kelestarian, oleh karena itu, gagasan dikusi ini merupakan salah satu upaya dalam melestarikan seni tradisional sebagai cermin dan jati diri bangsa.
“jika tidak ada yang peduli, bukan tidak mungkin generasi muda kita akan semakin jauh dari nilai-nilai seni budaya tradisional, bahkan tidak mengenal sama sekali,” tandasnya.
Ia mengakui, era globalisasi memberikan efek yang begitu besar di bidang perkembangan teknologi informasi Namun jika melihat sisi positifnya, pada dasarnya perkembangan ini dapat dimanfaatkan untuk dijadikan media pengembangan budaya, dengan catatan, masyarakat harus mampu melakukan filterisasi.
Narasumber lainnya, Musly Anwar mengatakan dukungan dari semua pihak sangat diharapkan untuk berperan serta secara aktif dalam menjaga eksistensi dan pengembangan seni tradisional. “salah satunya dengan membentuk sanggar-sanggar seni di tiap kecamatan,” kuncinya. (hr/hms)




