Musim kemarau berkepanjangan saat ini mengakibatkan krisis air bersih di Tana Toraja. Sumber induk PDAM di daerah ini pun kering, sehingga memaksa warga berupaya mencari sumber air bersih meski harus bersusah payah. Seperti yang dilakukan warga Lembang Lea, Kecamatan Makale, Tana Toraja, Rabu (30/9/15) kemarin.
Mereka terpaksa menggali sumur sedalam 30 meter untuk mencari sumber air. Meski di area bebatuan, warga di Lembang Lea ini berupaya keras menggali sumur demi kebutuhan air bersih. Sementara, pemerintah melalui PDAM setempat belum mengupayakan alternatif layanan air bersih.
Anggota DPRD Tana Toraja, Kristian HP Lambe, mengaku prihatin dengan kondisi yang dialami warga saat ini. Menurutnya, warga sangat membutuhkan air bersih, PDAM memberikan layanan alternatif berupa penyediaan tangki air bersih kepada warga. Kalaupun ada, layanan tangki air bersih itu tidak merata.
Kristian Lambe mengaku cukup sedih ketika melihat warga bersusah payah menggali sumur demi mendapatkan air bersih. Warga di Lembang Lea berupaya keras menggali sumur meski di daerah bebatuan.
“Sudah digali sedalam 10 meter, airnya masih belum muncul juga. Jadi, warga menggali terus hingga kedalaman 20 atau 30 meter. Agar aman menggali ke bawah, warga bahkan menggunakan beberapa batang bambu sebagai titian di sumur itu, apalagi memang sangat berbahaya jika melihat penggalian sumur itu karena tampak ada batu-batu besar,” jelasnya.
Krisis air bersih melanda sebagian besar wilayah Tana Toraja beberapa bulan terakhir. Di wilayah barat, seperti Kecamatan Rembon, Saluputti, Rantetayo, mengalami hal sama. Warga berupaya membuat sumur meski sangat dalam.
Sebagian besar warga memanfaatkan air sungai untuk digunakan memasak dan mencuci. Kondisi ini sudah berlangsung beberapa bulan terakhir, namun tidak ada perhatian dari pemerintah daerah, atau instansi terakit.
Di Rembon dan Ulusalu, pinggir-pinggir sungai pun tampak berjajar sumur-sumur dengan maksud mendapatkan air bersih. Eko mengaku sangat kecewa dengan layanan pemerintah yang seolah tidak peduli dengan kondisi seperti itu.
Eko, warga Rembon, mengaku kesulitan dengan kondisi seperti itu. “Yah, kami mandi dan mencuci di sungai. Lalu kami mengangkut air bersih ke rumah untuk dimasak. Aliran air bersih dari PDAM sudah kering, tapi herannya kita tetap membayar tagihan bulanan,” katanya. (*)




