Bangunan prestisius seperti patung Yesus Kristus di Buntu Burake, Kabupaten Tana Toraja, yang sedang dalam pengerjaan pihak ketiga, dan akan menjadi salah satu land mark masyarakat Toraja di masa mendatang diminta tidak dijadikan bahan jualan politik oleh kandidat kepala daerah.
“Tidak perlu mengagung-agungkan siapa yang membuatnya. Siapa yang memberikan ide. Yang jelas bahwa siapapun yang nanti menjadi bupati di Toraja ini akan merampungkan patung itu, karena anggarannya sudah tersedia,” kata anggota DPRD Toraja asal Partai Demokrat, Aser Pakabu, di Makale.
Menurut Aser, pembangunan patung tersebut juga dibangun berdasarkan rekomendasi DPRD Tana Toraja, termasuk dirinya yang ikut memutuskan pembangunan patung itu.
“Karena itu, perlu diketahui bahwa keberadaan patung itu bukan prestasi bupati, bukan prestasi dewan. Patung ini disepakati bersama oleh dewan dan pemerintah untuk kepentingan masyarakat dan daerah,” tandasnya.
Hal sama diungkapkan Septianus Toding, seorang tokoh masyarakat Toraja, yang juga anggota dewan dua periode. Menurutnya, patung kristus adalah prestasi pemda dan DPRD, bukan prestasi perseorangan karena ide ini bukan dimunculkan oleh pemda sendiri.
“Patung ini patut kita banggakan karena itu perlu kita jaga. Siapa pun bupatinya ke depan wajib meneruskan proyek ini karena memang anggarannya sudah ada. Hanya saja, perlu diperhatikan hal-hal lain agar ke depan patung ini tidak bermasalah seperti alas hak yang perlu diselesaikan. Karena persoalannya, alas hak belum beres, patungnya sudah dikerjakan. Jangan sampai di masa mendatang pemilik lahan keberatan, masa dibongkar lagi,” jelasnya.
Untuk diketahui,Patung Kristus yang dibangun di Puncak Buntu (Bukit) Burake diklaim merupakan patung kristus tertinggi di dunia, bahkan mengalahkan tinggi patung Kristus di Rio de Janeiro, Brazil.
Patung Kristus yang dibangun di Toraja memiliki tinggi total 40 meter, yaitu landasan dengan tinggi 17 meter, dan patung setinggi 23 meter. Patung ini dibangun dengan menggunakan bahan perunggu, yang pengerjaannya dipercayakan kepada pengerajin patung di Yogyakarta.




