Penurunan angka kemiskinan di Kabupaten Luwu Timur mendapat apresiasi dari Anggota DPRD Luwu Timur, Rusdi Layong.
Namun ia mengingatkan pemerintah agar tidak abai terhadap tantangan baru yang muncul, terutama meningkatnya biaya hidup masyarakat berpenghasilan rendah.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis 20 Oktober 2025 menunjukkan jumlah penduduk miskin pada Maret 2025 turun menjadi 18,55 ribu jiwa, berkurang 2,15 ribu jiwa dibandingkan periode yang sama pada 2024.
Persentase kemiskinan juga turun dari 6,55 persen menjadi 5,79 persen.
Meski mengapresiasi capaian tersebut, Rusdi menilai penurunan kemiskinan harus diimbangi kebijakan yang lebih adaptif terhadap tekanan ekonomi.
“Kita patut bersyukur. Penurunan angka kemiskinan dan kenaikan PDRB per kapita adalah capaian yang positif. Tapi ini bukan tanda untuk merasa aman,” ujarnya.
Rusdi menjelaskan bahwa garis kemiskinan sebagai indikator yang menggambarkan kebutuhan hidup minimum, terus meningkat. Pada 2025, garis kemiskinan Lutim naik menjadi Rp469.563 per kapita per bulan, atau meningkat sekitar 2 persen dibanding tahun sebelumnya.
“Kenaikan garis kemiskinan berarti biaya hidup makin berat, terutama bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Pemerintah harus merespons cepat dengan program yang tepat sasaran,” tegasnya.
Menurut Rusdi, peningkatan harga kebutuhan pokok, stabilitas daya beli, dan ketimpangan akses terhadap kesempatan ekonomi harus menjadi perhatian utama.
Rusdi menilai laju pertumbuhan ekonomi Luwu Timur sudah berada di tren yang baik, tetapi manfaatnya tidak boleh terpusat hanya pada kelompok tertentu.
“Pemerintah perlu memperkuat pemberdayaan ekonomi, memperluas pelatihan keterampilan, dan memastikan infrastruktur sosial hadir sampai level desa. Pertumbuhan ekonomi harus dirasakan merata,” katanya.
Ia juga menekankan perlunya pengawasan ketat terhadap efektivitas program pengentasan kemiskinan yang berjalan saat ini.
BPS mencatat penurunan kemiskinan di Lutim berlangsung konsisten sejak 2018, meski sempat naik pada 2021 dan 2023. Tingkat kemiskinan tertinggi berada pada 2018 sebesar 7,23 persen, kemudian terus turun hingga mencapai 5,79 persen pada 2025.
Namun garis kemiskinan terus meningkat dari tahun ke tahun. Lonjakan terbesar terjadi pada 2023 sebesar 11,17 persen, sebelum kembali meningkat menjadi Rp469.563 pada 2025.
Rusdi Layong: Penurunan Kemiskinan Harus Jadi Langkah Awal
Rusdi memastikan DPRD Luwu Timur akan mendorong kebijakan afirmatif untuk kelompok rentan, termasuk penguatan jaring pengaman sosial, akses pangan, dan kesempatan kerja.
“Penurunan kemiskinan ini langkah awal, bukan garis akhir. Kita harus memastikan masyarakat ikut merasakan hasil pembangunan,” tutupnya.




