PT Vale Indonesia Tbk masuk dalam orkestrasi riset pemerintah untuk memperkuat agenda hilirisasi mineral dan ketahanan energi nasional.
Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia (Kemendiktisaintek) merancang arsitektur riset berbasis problem statement, yakni penelitian yang menjawab kebutuhan riil industri dan strategi negara.
Skema ini melibatkan Dewan Energi Nasional (DEN) serta holding pertambangan MIND ID yang menaungi PT Vale.
Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kemendiktisaintek, Fauzan Aziman, menegaskan bahwa fokus riset kini diarahkan untuk memperkuat penguasaan teknologi di sektor strategis, termasuk mineral dan energi.
“Apa yang menjadi perhatian DEN dan industri seperti MIND ID, itulah yang kami dorong menjadi fokus penelitian,” ujarnya dalam sosialisasi PP Nomor 40 Tahun 2025 di Jakarta, beberapa waktu lalu.
Pemerintah menilai keberhasilan hilirisasi tidak cukup hanya dengan investasi fisik, tetapi harus ditopang inovasi dan penguasaan teknologi dalam negeri.
Anggaran Riset Naik 50 Persen
Sebagai bentuk keseriusan, pemerintah meningkatkan anggaran riset nasional dari Rp8 triliun menjadi Rp12 triliun.
Tambahan anggaran ini difokuskan untuk mempercepat pengembangan teknologi pengolahan mineral dan energi, sekaligus mengurangi ketergantungan pada teknologi impor.
Dalam struktur MIND ID, PT Vale Indonesia berada bersama sejumlah entitas strategis seperti PT Aneka Tambang Tbk, PT Bukit Asam Tbk, PT Freeport Indonesia, PT Indonesia Asahan Aluminium, dan PT Timah Tbk.
Sinergi Teknologi dan SDM
Pemerintah juga menyiapkan integrasi riset dengan pengembangan sumber daya manusia (SDM). Industri mineral dinilai membutuhkan talenta yang adaptif terhadap disrupsi teknologi global.
Kolaborasi antara Kemendiktisaintek dan MIND ID, diarahkan untuk memastikan riset tidak berhenti di laboratorium, tetapi terimplementasi di sektor industri.




