LUWURAYA.COM — Kebakaran hutan dan lahan menjadi kejadian bencana yang paling banyak tercatat di Kota Palopo sepanjang Agustus 2026.
Berdasarkan data Sistem Informasi Andal Pengendalian Bencana (SI-Andalan) Provinsi Sulawesi Selatan, terdapat 25 kejadian bencana yang tercatat di Palopo selama Agustus.
Dari jumlah tersebut, 16 kejadian atau 64 persen merupakan kebakaran hutan dan lahan.
Selain kebakaran hutan dan lahan, SI-Andalan mencatat empat kejadian kekeringan, dua kejadian kebakaran, dua evakuasi pohon tumbang, dan satu kejadian dalam kategori lainnya.
Dengan demikian, kebakaran hutan dan lahan menjadi jenis kejadian yang paling dominan dalam catatan bencana Palopo selama Agustus.
Kebakaran Tersebar di Sejumlah Wilayah
Catatan SI-Andalan menunjukkan kejadian kebakaran hutan dan lahan tidak hanya terjadi di satu kawasan.
| Jenis kejadian | Jumlah | Persentase |
|---|---|---|
| Kebakaran Hutan dan Lahan | 16 | 64% |
| Kekeringan | 4 | 16% |
| Kebakaran | 2 | 8% |
| Evakuasi Pohon Tumbang | 2 | 8% |
| Lainnya | 1 | 4% |
| Total | 25 | 100% |
Kejadian tercatat di sejumlah kecamatan, di antaranya Bara, Wara Selatan, Wara Barat, Wara Timur, dan Sendana.
Di Kecamatan Bara, kebakaran hutan dan lahan tercatat beberapa kali. Kejadian tersebut antara lain berada di Kelurahan Buntu Datu dan Balandai.
Kebakaran juga tercatat di Kelurahan Takkalala, Sampoddo, dan Songka di Kecamatan Wara Selatan. Di Songka, terdapat dua catatan kejadian pada 15 Agustus.
Sementara di Kecamatan Wara Barat, kebakaran hutan dan lahan tercatat di Battang Barat. Kejadian serupa juga tercatat di Pontap, Kecamatan Wara Timur, serta Peta di Kecamatan Sendana.
Selain kebakaran hutan dan lahan, persoalan kekeringan juga muncul dalam catatan Agustus. Kejadian kekeringan tercatat di Pajalesang, Mawa, Lagaligo, dan Salubattang.
Data tersebut memperlihatkan bahwa kebakaran hutan dan lahan menjadi fenomena yang paling menonjol dalam catatan kejadian bencana di Palopo sepanjang Agustus.
Namun, data SI-Andalan merupakan catatan kejadian dan belum menggambarkan secara langsung luasan lahan yang terbakar, nilai kerugian, maupun tingkat dampak setiap kejadian.
Karena itu, angka 16 kejadian kebakaran hutan dan lahan perlu dibaca sebagai jumlah kejadian yang tercatat dalam sistem, bukan sebagai ukuran luas atau besarnya kerusakan akibat kebakaran.
Data ini juga dapat menjadi gambaran awal bagi pemerintah dan masyarakat mengenai wilayah yang berulang kali tercatat mengalami kebakaran, terutama ketika kondisi lingkungan semakin kering.
Luwuraya berkomitmen untuk terus berdiri sebagai rumah informasi yang jujur dan objektif bagi masyarakat luas. Namun, kami tidak bisa berjalan sendirian. Kami memanggil semangat gotong royong khas kita. Jika hari ini berita kami pernah menemani, mengedukasi, atau memberi manfaat untukmu, sudilah kiranya meluangkan sedikit rezeki untuk "mentraktir kopi" tim di balik layar.

