BPBD Lutra Libatkan Penyuluh Agama Atasi Bencana

1 Min Read

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Luwu Utara melakukan sebuah terobosan baru dengan melibatkan Penyuluh Agama, para Kepala KUA, Remaja Masjid, dan tokoh masyarakat dalam membantu pemerintah mengatasi persoalan kebencanaan di Luwu Utara. Sudah menjadi rahasia publik bahwa sebagian wilayah di Lutra sangat rawan bencana, utamanya banjir.

Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Luwu Utara, Alauddin Sukri menjelaskan keterlibatan Kepala KUA, Penyuluh Agama, dan Remaja Masjid dalam mengatasi persoalan kebencanaan adalah sesuatu yang harus dilakukan dalam rangka membangun kegotongroyongan, utamanya dalam mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya upaya pencegahan bencana.

Alauddin mengatakan, budaya kegotongroyongan sejauh ini getarannya mulai terputus, dan bahkan tidak terasa lagi, sehingga kebersamaan dalam melakukan langkah-langkah pencegahan dan penanganan bencana terkesan individualistis atau nafsi-nafsi.

“Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri dalam mengatasi bencana. Dibutuhkan dukungan semua pihak guna meminimalisir bencana. Bencana itu tak bisa ditolak, tetapi hanya bisa diminimalisir,” kata Alauddin.

Sementara itu, Kepala Kantor Departemen Agama Kabupaten Luwu Utara, Muchlis Khalid, meminta Penyuluh Agama dan KUA untuk tidak berpangku tangan membantu pemerintah dalam mengatasi persoalan kebencanaan.

“Jadi tolong kepada Penyuluh Agama dan KUA,bergeraklah sebagaimana yang diinginkan. Semua penyuluh harus siap. Ready for use atau siap pakai. Tidak boleh lepas tangan,” tandas Muchlis.

 

TAGGED:
Share This Article
Asdhar adalah jurnalis yang telah mengabdikan dirinya di dunia pers sejak 2007. Lebih dari sekadar profesi, jurnalistik baginya adalah ruang untuk merawat akurasi, menjaga nalar publik, dan memastikan setiap informasi sampai kepada masyarakat dengan jernih dan bertanggung jawab. Perjalanan kariernya ditempa di Harian Seputar Indonesia, sebelum kemudian memperluas cakrawala peliputan di Kompas TV. Pengalaman lintas platform ini membentuknya sebagai jurnalis yang adaptif, tajam dalam membaca isu, serta mampu menerjemahkan peristiwa kompleks menjadi informasi yang mudah dipahami tanpa kehilangan kedalaman. Dengan lebih dari satu dekade pengalaman, dia menempatkan integritas sebagai fondasi utama dalam setiap karya jurnalistiknya. Ia percaya bahwa media bukan hanya menyampaikan berita, tetapi juga membangun kepercayaan publik melalui konsistensi, keberimbangan, dan keberanian dalam menyuarakan fakta.