Diduga Akibat Penambangan Ilegal,Bendungan di Walmas Jebol

2 Min Read

Bendungan irigasi yang dibangun Pemerintah Kabupaten Luwu dan dibantu swadaya masyarakat melalui tiga kelompok tani masing-masing Rezki Bulo, Bulan Sabit dan Lengkongriri Desa Bulo Kecamatan Walenrang jebol, penyebabnya diduga akibat maraknya aktifitas penambangan illegal berupa pengambilan batu sungai untuk kepentingan komersialisasi.

Data yang dihimpun menyebutkan, tanggul yang jebol itu panjangnya sekitar 40 meter. Asril, Ketua Kelompok Tani Rezki Bulo, mengatakan maraknya aktifitas pengambilan batu dan pasir di sungai menjadi penyebab jebolnya tanggul tersebut.

“Kami berharap agar kegiatan illegal ini dihentikan karena aliran sungai yang kami bendung tidak akan berfungsi sama sekali, sehingga ancaman gagal panen padi sawah seluas 84 hektar akan menjadi nyata. Kalau ini dibiarkan, akan menurunkan produksi padi sekitar 377.500 ton, kalau kita rupiahkan kerugian bisa mencapai Rp 1,3 milyar, dan merasakan dampaknya adalah masyarakat kita sendiri,” ujar Asril.

Asril menambahkan, Kelurahan Bulo merupakan salah satu Sentra Produksi Padi di Kecamatan Walenrang, dan satu-satunya sumber mata pencaharian masyarakat petani karena terbatasnya lahan pertanian di daerah tersebut. Untuk melanjutkan hidup masyarakat petani di sana, tambah Asril, dibangunlah sebuah bendungan di sungai Lamasi sepanjang 2.500 meter dan sudah berjalan selama lima tahun.

“Bendungan irigasi sepanjang 2.500 meter ini sebenarnya sudah berjalan lima tahun. Dan pada tanggal 29 April yang lalu, bendungan ini jebol sepanjang 40 meter, akibat penambangan batu di sepanjang aliran sungai Lamasi ini,” ungkapnya.

Olehnya itu, untuk memperbaiki kembali bendungan yang jebol tersebut pihak kelompok tani sudah melakukan upaya koordinasi dengan pihak kelurahan, camat dan dalam waktu dekat akan melakukan pertemuan dengan Bupati dan Wakil Bupati Luwu.  Asril mengatakan pihaknya akan berupaya terus agar bendungan ini bisa mendapatkan perhatian dari pemerintah Kabupaten Luwu.

“Kami sudah bertemu dengan Lurah, Camat, dan dalam waktu dekat kami akan bertemu dengan Bupati dan Wakil Bupati untuk membicarakan permasalahan ini. Kami sangat berharap agar bendungan yang jebol ini bisa berfungsi kembali, tentu dengan harapan mendapat bantuan dari pihak pemerintah,” pungkas Asril (*)

Lukman Hamarong/Haswadi

TAGGED:
Share This Article
Asdhar adalah jurnalis yang telah mengabdikan dirinya di dunia pers sejak 2007. Lebih dari sekadar profesi, jurnalistik baginya adalah ruang untuk merawat akurasi, menjaga nalar publik, dan memastikan setiap informasi sampai kepada masyarakat dengan jernih dan bertanggung jawab. Perjalanan kariernya ditempa di Harian Seputar Indonesia, sebelum kemudian memperluas cakrawala peliputan di Kompas TV. Pengalaman lintas platform ini membentuknya sebagai jurnalis yang adaptif, tajam dalam membaca isu, serta mampu menerjemahkan peristiwa kompleks menjadi informasi yang mudah dipahami tanpa kehilangan kedalaman. Dengan lebih dari satu dekade pengalaman, dia menempatkan integritas sebagai fondasi utama dalam setiap karya jurnalistiknya. Ia percaya bahwa media bukan hanya menyampaikan berita, tetapi juga membangun kepercayaan publik melalui konsistensi, keberimbangan, dan keberanian dalam menyuarakan fakta.