Dinilai Lecehkan Budaya, Warga Turunkan Baliho FDM

Asdhar
2 Min Read

Sejumlah baliho kegiatan Festival Danau Matano (FDM) telah diturunkan oleh masyarakat kecamatan Nuha, Kabupaten Luwu Timur yang menolak item kegiatan yang akan ditampilkan pada tanggal 27 hingga 29 November mendatang.

Pasalnya, panitia FDM itu dinilai telah melecehkan budaya warga setempat seperti mencantumkan nama tarian yang tertulis pada baliho dan umbul – umbul FDM itu yakni “Nohu Bangka (Tangkap Ikan)” sementara penulisan yang sebenarnya adalah “Nohu Bangka (Tumbuk Padi)”.

Kordinator aksi Musran mengaku tidak menerima pelecehan budaya tersebut. Terkait pelecehan itu, dirinya bersama – sama dengan warga setempat telah menurunkan seluruh baliho yang ada.

Selain itu, baliho yang ada diluar wilayah kecamatan Nuha juga rencananya akan diturunkan.

Musran menegaskan, Pemerintah Daerah (Pemda) dan Event Organizer (EO) harus meminta maaf kepada media selama satu Minggu dan wajib mendatangi dewan adat di pesisir Matano untuk menyampaikan permohonan maaf.

“”Nohu Bangka” itu dibuat dalam tarian beralunan musik yang artinya tumbuk padi, sementara pada baliho tertulis Nohu Bangka (tangkap ikan). Ada juga tarian Monsando artinya (main dukun) sementara penulisan sebenarnya adalah Monsado artinya (tari perang), ini yang kami tidak terima,” ungkapnya.

Sementara itu, Penjabat Bupati Luwu Timur, Irman Yasin Limpo mengatakan, jika ada yang salah secara tehnis harus dibenarkan dengan cara yang baik. “Saya kira kalau ada salah tehnis harus dibenarkan tapi dengan cara yang baik,” ungkapnya.

Share This Article
Asdhar adalah jurnalis yang telah mengabdikan dirinya di dunia pers sejak 2007. Lebih dari sekadar profesi, jurnalistik baginya adalah ruang untuk merawat akurasi, menjaga nalar publik, dan memastikan setiap informasi sampai kepada masyarakat dengan jernih dan bertanggung jawab. Perjalanan kariernya ditempa di Harian Seputar Indonesia, sebelum kemudian memperluas cakrawala peliputan di Kompas TV. Pengalaman lintas platform ini membentuknya sebagai jurnalis yang adaptif, tajam dalam membaca isu, serta mampu menerjemahkan peristiwa kompleks menjadi informasi yang mudah dipahami tanpa kehilangan kedalaman. Dengan lebih dari satu dekade pengalaman, dia menempatkan integritas sebagai fondasi utama dalam setiap karya jurnalistiknya. Ia percaya bahwa media bukan hanya menyampaikan berita, tetapi juga membangun kepercayaan publik melalui konsistensi, keberimbangan, dan keberanian dalam menyuarakan fakta.