DPRD Lutim Sesalkan Kebijakan PT Vale

2 Min Read

Para pebisnis seperti perhotelan, kontraktor dan usaha lainnya didesa Sumasang, kecamatan Nuha, kabupaten Luwu Timur ternyata telah menikmati listrik gratis dari perusahaan tambang nikkel milik PT Vale Indonesia.

Penggunaan listrik gratis tersebut diketahui setelah Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Luwu Timur melalui Komisi III melakukan Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama PT Vale dan PT PLN diruang aspirasi, Jum’at (19/1) kemarin.

Berbeda dengan masyarakat adat Dongi didesa Soroako, hingga saat ini belum menikmati listrik. Bakan, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) pernah meminta agar PT Vale mengalirkan listrik ke permukiman itu namun belum terealisasi.

Pemberlakuan listrik gratis bagi para pebisnis oleh PT Vale ini pun sangat disayangkan oleh ketua komisi III DPRD Luwu Timur, Herdinang. Menurutnya, kebijakan ini tentunya merugikan daerah khususnya dari sisi pendapatan.

“Seharusnya ada pemisahan antara warga yang masuk dalam bagian komitmen dengan PT Vale. Kebijakan ini tidak boleh diberlakukan untuk semua kalangan,” ungkap ketua fraksi partai Demokrat.

Ia meminta agar PT Vale menyelesaikan kewajiban berdasarkan komitmen dengan masyarakat dan merekomendasikan agar jaringan listrik gratis untuk hotel dan kegiatan bisnis lainnya dicabut dan menggunakan jaringan PLN.

“Begitupun dengan masyarakat asli Tapondau, jika kewajiban yang tertuang dalam kesepakatan yang dimaksud telah ditunaikan oleh PT Vale maka tidak ada lagi alasan untuk tidak menggunakn jaringan PLN,” ungkap Herdinang.

Informasi yang dihimpun, kebijakan listrik gratis oleh perusahaan ini didasari atas kesepakatan antara masyarakat Tapondau dengan PT Inco (PT Vale saat ini) dengan menyepakati beberapa poin.

Poin yang dimaksud yakni, penyediaan air bersih, pembangunan infrastruktur jalan, pembangunan pasar, dan pembangunan rumah ibadah. Dari poin tersebut, penyediaan air bersih belum dapat dirasakan sepenuhnya oleh warga.

TAGGED:
Share This Article
Asdhar adalah jurnalis yang telah mengabdikan dirinya di dunia pers sejak 2007. Lebih dari sekadar profesi, jurnalistik baginya adalah ruang untuk merawat akurasi, menjaga nalar publik, dan memastikan setiap informasi sampai kepada masyarakat dengan jernih dan bertanggung jawab. Perjalanan kariernya ditempa di Harian Seputar Indonesia, sebelum kemudian memperluas cakrawala peliputan di Kompas TV. Pengalaman lintas platform ini membentuknya sebagai jurnalis yang adaptif, tajam dalam membaca isu, serta mampu menerjemahkan peristiwa kompleks menjadi informasi yang mudah dipahami tanpa kehilangan kedalaman. Dengan lebih dari satu dekade pengalaman, dia menempatkan integritas sebagai fondasi utama dalam setiap karya jurnalistiknya. Ia percaya bahwa media bukan hanya menyampaikan berita, tetapi juga membangun kepercayaan publik melalui konsistensi, keberimbangan, dan keberanian dalam menyuarakan fakta.