Kehadiran buras atau burasa’ di atas meja makan telah lama menjadi pemandangan wajib yang sakral bagi masyarakat suku Bugis-Makassar setiap kali momentum hari raya tiba.
Perayaan lebaran terasa belum lengkap tanpa adanya aroma khas daun pisang dari panganan gurih ini.
Namun, tradisi turun-temurun ini sejatinya tidak lahir dari sebuah kebetulan kuliner semata. Sebab, ada ikatan emosional dan sejarah masa lalu yang sangat kuat antara fungsi awal buras di jaman kerajaan dengan esensi kesucian hari kemenangan.
Pada abad lampau, buras diciptakan oleh para perempuan pesisir sebagai bekal logistik super awet bagi para suami yang pergi merantau (sompe’) mengarungi samudra.
Daya tahan makanan ini menjadi penyelamat hidup yang menjaga napas para pelaut hingga bisa kembali pulang ke rumah dengan selamat.
Melalui rekam jejak maritim tersebut, makna buras secara perlahan mengalami pergeseran nilai spiritual yang sangat indah di dalam lingkungan keluarga.
Sebab, momen Lebaran merupakan waktu sakral di mana para perantau tangguh dari berbagai penjuru dunia berbondong-bondong mudik ke kampung halaman.
Menghidangkan buras di hari raya menjadi simbol penghormatan tertinggi dari keluarga di rumah untuk menyambut kedatangan para pejuang nafkah tersebut.
Selain itu, makanan yang dulunya dilepas pergi bersama air mata kini disantap bersama sebagai bentuk perayaan atas kepulangan yang aman.
Tradisi melilit buras menggunakan tali rafia atau benang tipis secara berpasangan juga menyimpan pesan filosofis tentang keutuhan keluarga.
Jalinan tali pengikat tersebut melambangkan bahwa sejauh apa pun orang Bugis-Makassar pergi merantau, ikatan darah dan tanah kelahiran tidak akan pernah putus.
Dampak sosial dari eksistensi kuliner legendaris ini juga terlihat jelas satu hari menjelang Lebaran melalui aktivitas yang disebut ma’burasa (membuat/memasak burasa).
Momentum memasak buras secara massal ini selalu berhasil menghidupkan kembali roh gotong royong yang mulai pudar di era modern.
Selanjutnya, para tetangga dan kerabat akan berkumpul di pelataran rumah untuk membantu proses membungkus hingga menjaga tungku pembakaran selama berjam-jam.
Ruang interaksi sosial ini menjadi sarana paling efektif untuk saling memaafkan, bertukar cerita rindu, sekaligus memperkuat solidaritas komunitas.
“Bukan ji soal pengisi perut biar kenyang, tetapi burasa (penyebutan lokal untuk buras) adalah identitas abadi yang mengikat rasa cinta kita pada keluarga,” tutur Aswandi, warga Malangke yang jadi pemerhati sekaligus penikmat Buras.
Luwuraya berkomitmen untuk terus berdiri sebagai rumah informasi yang jujur dan objektif bagi masyarakat luas. Namun, kami tidak bisa berjalan sendirian. Kami memanggil semangat gotong royong khas kita. Jika hari ini berita kami pernah menemani, mengedukasi, atau memberi manfaat untukmu, sudilah kiranya meluangkan sedikit rezeki untuk "mentraktir kopi" tim di balik layar.

