Irwan Tantang Lulusan Perguruan Tinggi Kembali Ke Desa

2 Min Read

Menjadi sarjana belum cukup, akan tetapi harus menjadi sarjana yang kreatif dan berjiwa kompetisi, lulusan perguruan tinggi harus punya paradigma untuk menciptakan lapangan kerja minimal untuk dirinya sendiri bukan bercita cita untuk dipekerjakan.

Hal tersebut dikatakan Wakil Bupati Luwu timur, Irwan Bachry Syam saat menyampaikan orasi ilmiahnya di depan wisudawan dan civitas akademika Universitas Cokroaminoto Palopo Rabu, (22/03/2017).

Irwan mengatakan lulusan perguruan tinggi haruslah kreatif. Bahkan ia menantang para lulusan perguruan tinggi untuk kembali kedesa dan mengaplikasikan ilmu yang selama ini telah mereka dapatkan di perguruan tinggi.

Menurut Irwan peluang yang ada di desa terbuka lebar terutama bagi para alumni perguruan tinggi yang memang punya semangat untuk ikut andil dalam memajukan pembangunan bangsa khususnya di desa.

Lebih jauh Irwan memaparkan bahwa saat ini kabupaten Luwu timur punya program “one zone one community” atau satu desa satu produk. Program tersebut mendorong setiap desa untuk mengembangkan produk unggulan mereka, hal tersebut diharapkan akan bermuara pada percepatan pembangunan di Kabupaten Luwu Timur.

Keberhasilan program “one zone one community” tentu membutuhkan sumberdaya yang kreatif dan penuh inovasi. Untuk itu ia mengundang generasi muda terutama para sarjana untuk kembali ke desa dan ikut berkontribusi dalam program tersebut.

“Kabupaten Luwu Timur terbuka untuk generasi muda yang inovatif dan berjiwa kompetisi. Mari ke Luwu Timur” katanya.

Dalam orasi ilmiah yang kurang lebih 1 jam setengah itu dirinya menekankan kepada seluruh wisudawan dan civitas akademika universitas cokroaminoto tersebut bahwa tanggung jawab untuk membangun bangsa menjadi lebih baik di pundak generasi muda melalui perguruan tinggi yang senantiasa dituntut terus meningkatkan kwalitas pendidikan baik melalui pelaksanaan riset dan penelitian yang relevan dengan prioritas pembangunan daerah maupun nasional.

TAGGED:
Share This Article
Asdhar adalah jurnalis yang telah mengabdikan dirinya di dunia pers sejak 2007. Lebih dari sekadar profesi, jurnalistik baginya adalah ruang untuk merawat akurasi, menjaga nalar publik, dan memastikan setiap informasi sampai kepada masyarakat dengan jernih dan bertanggung jawab. Perjalanan kariernya ditempa di Harian Seputar Indonesia, sebelum kemudian memperluas cakrawala peliputan di Kompas TV. Pengalaman lintas platform ini membentuknya sebagai jurnalis yang adaptif, tajam dalam membaca isu, serta mampu menerjemahkan peristiwa kompleks menjadi informasi yang mudah dipahami tanpa kehilangan kedalaman. Dengan lebih dari satu dekade pengalaman, dia menempatkan integritas sebagai fondasi utama dalam setiap karya jurnalistiknya. Ia percaya bahwa media bukan hanya menyampaikan berita, tetapi juga membangun kepercayaan publik melalui konsistensi, keberimbangan, dan keberanian dalam menyuarakan fakta.