Akses yang sulit dan ancaman ekspansi tambang masih menjadi persoalan utama yang dihadapi masyarakat adat di Rampi. Wilayah pegunungan yang terpencil ini tidak hanya terisolasi secara geografis, tetapi juga menghadapi tekanan terhadap ruang hidup dan budaya yang telah dijaga turun-temurun.
Rampi merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Luwu Utara dengan kondisi geografis berada di dataran tinggi, sekitar 1.635 meter di atas permukaan laut. Wilayah ini berjarak sekitar 84 kilometer dari ibu kota kabupaten, Masamba, dengan luas mencapai 1.565 kilometer persegi dan jumlah penduduk sekitar 2.789 jiwa yang tersebar dalam 770 kepala keluarga.
Namun, jarak tersebut tidak sebanding dengan kemudahan akses. Hingga kini, Rampi hanya bisa dijangkau melalui jalur udara atau kendaraan roda dua dengan kondisi jalan yang terbatas. Bahkan, sebagian warga masih harus berjalan kaki selama tiga hingga empat hari untuk keluar masuk wilayah tersebut.
Kondisi infrastruktur jalan pun semakin memprihatinkan. Sejumlah titik di jalur poros Masamba–Rampi mengalami longsor, membuat mobilitas warga semakin terhambat, terutama saat musim hujan.
Di tengah keterbatasan itu, masyarakat adat Rampi tetap menjaga tradisi leluhur. Wilayah ini terdiri dari sejumlah kampung adat yang dipimpin oleh tokoh adat atau “Tokey”, dengan struktur kepemimpinan adat yang masih kuat.
Tradisi penyambutan tamu, misalnya, masih dilakukan dengan simbol-simbol adat seperti penyerahan ayam jantan putih, telur, dan beras. Ritual ini melambangkan harapan akan kekuatan, perlindungan, serta kesejahteraan bagi masyarakat.
Selain itu, praktik barter masih berlangsung dalam kehidupan sehari-hari, baik untuk kebutuhan primer maupun sekunder. Masyarakat juga dikenal dengan tradisi membuat pakaian dari kulit pohon yang diolah secara tradisional untuk dijadikan pakaian maupun selimut.
Aktivitas ekonomi warga sebagian besar bertumpu pada berkebun dan berladang. Sebagian lainnya beternak sapi atau kerbau, serta mendulang emas secara tradisional—aktivitas yang umumnya dilakukan oleh kaum perempuan sebagai tambahan penghasilan.
Namun di balik kehidupan yang masih kental dengan kearifan lokal, ancaman terhadap wilayah adat terus membayangi. Kandungan sumber daya alam seperti emas, bijih besi, dan batu bara di kawasan hutan adat Rampi menjadi daya tarik bagi perusahaan tambang.
Sejarah konflik lahan juga pernah terjadi. Pada 1978, masyarakat adat kehilangan wilayah yang dianggap keramat, yakni Toboru. Kemudian pada 1986, terjadi tukar guling lahan dengan pihak perusahaan yang beroperasi di wilayah lain di Sulawesi Selatan, yang hingga kini masih menyisakan persoalan bagi masyarakat adat.
Situasi ini menempatkan masyarakat Rampi pada posisi rentan—di satu sisi berjuang menghadapi keterisolasian, di sisi lain harus mempertahankan ruang hidup dari potensi eksploitasi sumber daya alam.
Luwuraya berkomitmen untuk terus berdiri sebagai rumah informasi yang jujur dan objektif bagi masyarakat luas. Namun, kami tidak bisa berjalan sendirian. Kami memanggil semangat gotong royong khas kita. Jika hari ini berita kami pernah menemani, mengedukasi, atau memberi manfaat untukmu, sudilah kiranya meluangkan sedikit rezeki untuk "mentraktir kopi" tim di balik layar.

