Luwuraya.comLuwuraya.comLuwuraya.com
  • Berita
    • Metro
    • Hukum
    • Politik
    • Ekonomi
    • Pendidikan
    • Luwu Timur
    • DPRD Luwu Timur
  • Wisata
    • Budaya
    • Kuliner
    • Rekreasi
  • Infografis
  • Lifestyle
    • Fashion
    • Hoby
    • Komunitas
  • Lainnya
    • Foto
    • Video
    • Opini
    • Sport
Font ResizerAa
Luwuraya.comLuwuraya.com
Font ResizerAa
Cari
  • Berita
    • Metro
    • Hukum
    • Politik
    • Ekonomi
    • Pendidikan
    • Luwu Timur
    • DPRD Luwu Timur
  • Wisata
    • Budaya
    • Kuliner
    • Rekreasi
  • Infografis
  • Lifestyle
    • Fashion
    • Hoby
    • Komunitas
  • Lainnya
    • Foto
    • Video
    • Opini
    • Sport
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Pengaduan
  • Redaksi
  • Tentang Kami
Beranda » Berita » Perlukah Kita Travelling?
Opini

Perlukah Kita Travelling?

Asdhar
Asdhar
2 July 2013
Share
5 Min Read
SHARE

Oleh: Lukman Hamarong (PNS di Kabupaten Luwu Utara)

Travelling atau jalan-jalan, rekreasi, tamasya, refreshing, berpetualang, berdarma wisata, atau apalah namanya, yang sifatnya hiburan, biasanya dilakukan ketika manusia sudah berada pada titik kejenuhan setelah beberapa lama ‘bergulat’ dengan segala aktivitas keseharian.

Mengisi waktu luang dengan hal tersebut memang harus dilakukan walaupun tidak mutlak. Tidak sedikit juga ada yang beranggapan bahwa menghabiskan waktu luang dengan traveling  hanya menghabis-habiskan energi dan materi karena seluruh pikiran sepenuhnya tertuju pada aksi senang-senang saja.

Baca Juga

HUT 23 Tahun Luwu Timur: Harmoni Pertumbuhan, Industri, dan Keberlanjutan dari Timur Indonesia
Anggaran MBG Tembus Ratusan Triliun, Pengamat: Solusi Gizi atau Beban Baru APBN?

Padahal masih banyak kegiatan yang bisa dilakukan yang manfaatnya jauh lebih besar ketimbang hiburan dan senang-senang semata. Satu contoh kegiatan yang saya maksud adalah introspeksi dan evaluasi diri sampai sejauh mana aktivitas kita itu bisa bermanfaat bagi diri sendiri, terlebih lagi bagi orang lain.

Contoh lain, kumpul bareng keluarga. Kegiatan ini yang sangat jarang dilakukan karena masing-masing sibuk dengan segala urusan pekerjaannya. Namun, jarang bukan berarti tidak bisa kan? Kenapa kita tidak mencobanya? Anda harus sesekali menjadi pionir.

Memang kita tidak  bisa  pungkiri bahwa  manusia  modern  kini  lebih  condong ke  arah  yang  sifatnya hiburan (baca : jalan-jalan).  Hanya  dengan   berjalan-jalan  atau  berdarmawisata,  bahkan  sampai  ke  negeri  orang,  kepuasaaan  dunia  dapat  mereka  raih,  tidak  peduli  berapa  ongkos yang mereka  keluarkan.

Jutaan, puluhan juta bahkan ratusan juta rupiah yang  keluar, seakan nir arti bila kepuasan batin terpenuhi. Sangat ironis memang, di satu sisi kita dituntut untuk membelanjakan uang kita di jalan Allah demi kepentingan akhirat, di sisi lain orang senang menghambur-hamburkan uang demi kenikmatan duniawi semata dan itu sifatnya sesaat saja.

Saya ingin meminjam pernyataan Luthfi A Mutty, mantan Bupati Luwu Utara dua Periode 1999-2009, bahwa dua orang ahli futurolog (baca : ahli peramal masa depan), Alvin Tofler dan John Nesbit,  pernah mengungkapkan bahwa abad XXI merupakan abad traveling, yaitu  suatu masa di mana masyarakat dunia nantinya akan menghabiskan hidupnya dengan jalan-jalan atau berwisata.

Menurut kedua ahli futurolog tersebut, 30% pendapatan masyarakat dunia akan dihabiskan untuk berwisata. Orang pun bisa melakukan apa saja guna mewujudkan apa yang terbaik menurut mereka. Best of the best. Ya….terbaik di antara yang terbaik. Terbaik untuk ukuran kacamata mereka namun bisa menjadi yang terburuk untuk ukuran kacamata orang lain.

Saya pun juga setuju dengan pak Luthfi bahwa momentum abad ke—21 ini kita jadikan sebagai era Travelling di Luwu Utara, tetapi traveling di sini bukan berarti kita berwisata ke daerah atau negara lain, melainkan bagaimana kita bisa mendatangkan orang-orang dari luar daerah untuk berdarma wisata di tempat kita.

Bagaimana kita bisa memikat para pelancong dari luar untuk bisa berkunjung ke daerah kita? Salah satu cara yang bisa ditempuh untuk mewujudkan impian tersebut adalah meningkatkan kehidupan budaya, pariwisata dan kembali menggali sejarah dan budaya lokal kita. Salah satu Kabupaten termuda di Indonesia, Luwu Utara, bisa dianggap telah berhasil melakukannya.

Tahun 2004 lalu, Luwu Utara berhasil menggelar suatu event budaya berskala nasional, bahkan internasional, yakni Festival Galigo dan Seminar Internasional Sawerigading yang dilaksanakan selama kurang lebih satu minggu. Dan bahkan sejarah I Lagaligo, telah berhasil berkeliling dunia ke mancanegara, seperti Prancis, Jerman dan Singapura.

Tidak cukup puas dengan suksesnya penyelenggaraan Festival I La Galigo dan Seminar Internasional Sawerigading, Pemda Lutra bekerja sama dengan Pengurus Daerah (Pengda) Federasi Arung Jeram Indonesia (FAJI) Sulawesi Selatan juga sukses menggelar sebuah event olahraga Arung Jeram berskala nasional yang dilaksanakan di Sungai Rongkong Kecamatan Sabbang pada akhir 2004 silam.

Dua kegiatan ini telah mengangkat nama Kabupaten Luwu Utara di Indonesia, bahkan di dunia internasional. Hal ini terjadi berkat kejelian Pemda Lutra menggunakan momentum abad 21 ini sebagai abad Travelling, sehingga potensi sejarah, budaya dan pariwisata di Tana Luwu bisa tergali kembali oleh adanya kegiatan tersebut. Sekali lagi patut kita bertanya di dalam hati, Perlukah kita Travelling ? (*)

Baca Juga Berita Rekomendasi Lainnya

Tambang Emas Latimojong: Antara Harapan Ekonomi dan Ancaman Lingkungan
Naili, Pilihan Rasional untuk Menggantikan Trisal Tahir di PSU Palopo
Hasil Sidang DKPP dan Implikasinya Terhadap Sidang MK: Pengaruh Tidak Langsung yang Krusial
OPINI | Pilkada 2024 : Pemenang Tergantung Dekkeng
Program Inspiratif Kader PDIP Dari Ujung Timur Sulawesi Selatan
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Previous Article Tim Penilai Kabupaten Sehat Sambangi Luwu Timur
Next Article RMB Pamit Dengan Seluruh SKPD dan Muspida
Pendidikan

Luwu Timur Targetkan Nol Anak Putus Sekolah, Irwan: Dari TK Sampai Kuliah Kami Biayai

Bupati Irwan Bachri Syam menegaskan Luwu Timur menargetkan bebas anak putus sekolah…

7 May 2026
Pendidikan

Guru Bahasa Inggris Akan Dilatih di Luar Negeri, Target Cetak Trainer Internasional

Sebanyak 15 guru Bahasa Inggris Luwu Timur disiapkan mengikuti pelatihan profesional di…

7 May 2026

Rekomendasi Berita lainnya

Opini

OPINI: MUSYAWARAH NASIONAL KKLR-KKTL ‘Menyatunya Semangat, Ide dan Gagasan’

21 November 2021
Opini

OPINI | Totalitas Syamsul Chaeruddin di Turnamen Amsal Sampetondok Cup

24 January 2016
Opini

OPINI | Demo YPS: Tanggung Jawab Siapa?

14 June 2015
Opini

OPINI | Menangis

14 June 2015
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Pengaduan
  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Pengaduan
  • Redaksi
  • Tentang Kami
© Kawal Media Consulting. Luwuraya Media Kreatif. All Rights Reserved.
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?