Melestarikan kerajinan tradisional tidak cukup hanya dengan menjaga keterampilan menganyam agar tetap diwariskan. Produk para perajin juga membutuhkan pasar agar tetap bernilai ekonomi dan mampu menarik minat generasi muda untuk meneruskan tradisi tersebut. Pendekatan itu yang terus didorong PT Vale Indonesia Tbk melalui pendampingan terhadap UMKM binaan di Luwu Timur.
Komitmen tersebut terlihat dalam partisipasi PT Vale pada Hari Kesatuan Gerak (HKG) PKK Nasional ke-54 dan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-46 Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) yang berlangsung di Trans Studio Mall Makassar, 9–11 Juli 2026. Pada ajang berskala nasional itu, PT Vale memperkenalkan dua kerajinan khas Luwu Timur, yakni anyaman Teduhu dari Desa Nuha dan Sampa Konao dari Desa Matano, kepada ribuan pengunjung dari berbagai daerah.
Bagi PT Vale, kehadiran kedua produk tersebut bukan sekadar mengisi stan pameran. Keduanya menjadi contoh bagaimana warisan budaya lokal dapat berkembang menjadi produk ekonomi kreatif yang memiliki peluang di pasar nasional.
Dari Warisan Budaya Menjadi Produk Bernilai Ekonomi
Anyaman Teduhu merupakan kerajinan tradisional khas Desa Nuha yang dibuat dari serat tanaman teduhu atau pakis hutan (resam). Keterampilan menganyam yang dikenal masyarakat setempat dengan sebutan moena telah diwariskan turun-temurun dan kini tercatat sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB) Indonesia pada tahun 2021.
Sementara itu, Sampa Konao berasal dari Desa Matano dengan bahan baku utama daun enau. Daun tersebut terlebih dahulu direndam selama beberapa hari, kemudian dijemur hingga menghasilkan gradasi warna alami sebelum dianyam menjadi berbagai produk. Perbedaan warna daun dimanfaatkan para perajin untuk membentuk motif khas, sedangkan bentuk produknya terus berkembang mengikuti kreativitas penganyam, mulai dari perlengkapan rumah hingga dekorasi interior.
Head of External Relations Regional and Growth PT Vale Indonesia, Endra Kusuma, mengatakan perusahaan tidak hanya berupaya menjaga agar kerajinan tersebut tetap lestari, tetapi juga membantu para perajin memperoleh pasar yang lebih luas.
“Tujuan kami mendukung kegiatan ini adalah agar masyarakat binaan semakin mandiri secara ekonomi, usahanya berkelanjutan, dan promosi produk-produk lokal mereka semakin meluas, bukan hanya di tingkat daerah tetapi juga nasional,” ujar Endra di sela pameran.
Menurutnya, pemilihan anyaman Teduhu sebagai salah satu produk unggulan bukan tanpa alasan. Selain memiliki nilai budaya yang tinggi, jumlah pengrajinnya terus berkurang karena minat generasi muda mulai menurun.
“Dulu pengrajinnya cukup banyak, tetapi sekarang mulai berkurang karena generasi muda kurang tertarik. Karena itu kami melakukan pelatihan kepada anak-anak muda agar keterampilan ini tidak terputus dan tetap lestari,” katanya.
Pendampingan Tak Berhenti di Pelatihan
PT Vale menerapkan pendampingan yang mencakup seluruh rantai pengembangan usaha. Perusahaan tidak hanya menyediakan sarana pendukung, tetapi juga menggelar pelatihan manajemen usaha, pemasaran, peningkatan kualitas produk, hingga strategi branding dengan melibatkan narasumber tingkat nasional.
Di sisi lain, perusahaan membuka akses promosi melalui berbagai pameran, termasuk kegiatan bersama Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), serta menghadirkan UMKM Gallery sebagai etalase permanen bagi produk-produk binaan.
Strategi tersebut mulai menunjukkan hasil. Saat ini sekitar lima hingga sepuluh UMKM binaan PT Vale telah memperluas jangkauan pemasaran hingga tingkat provinsi. Sektor makanan dan minuman masih menjadi kontributor terbesar, namun produk kerajinan terus memperoleh ruang promosi yang lebih luas.
Sebagai bagian dari penguatan pasar, PT Vale juga memanfaatkan produk-produk UMKM binaan sebagai suvenir resmi bagi tamu dan mitra perusahaan. Langkah itu memberi kesempatan lebih besar bagi produk lokal untuk dikenal sekaligus membuka peluang pasar baru.
Keikutsertaan pada HKG PKK Nasional dan HUT Dekranas tahun ini menjadi salah satu upaya memperkenalkan kerajinan khas Luwu Timur kepada pasar yang lebih luas. Bagi para perajin, kesempatan tersebut bukan hanya menjadi ajang promosi, tetapi juga bukti bahwa warisan budaya seperti Teduhu dan Sampa Konao memiliki peluang berkembang apabila pelestarian tradisi berjalan seiring dengan penguatan kualitas produk dan perluasan akses pasar.
Luwuraya berkomitmen untuk terus berdiri sebagai rumah informasi yang jujur dan objektif bagi masyarakat luas. Namun, kami tidak bisa berjalan sendirian. Kami memanggil semangat gotong royong khas kita. Jika hari ini berita kami pernah menemani, mengedukasi, atau memberi manfaat untukmu, sudilah kiranya meluangkan sedikit rezeki untuk "mentraktir kopi" tim di balik layar.

