Luwuraya.comLuwuraya.comLuwuraya.com
  • Berita
    • Metro
    • Hukum
    • Politik
    • Ekonomi
    • Pendidikan
    • Luwu Timur
    • DPRD Luwu Timur
  • Wisata
    • Budaya
    • Kuliner
    • Rekreasi
  • Infografis
  • Lifestyle
    • Fashion
    • Hoby
    • Komunitas
  • Lainnya
    • Foto
    • Video
    • Opini
    • Sport
Font ResizerAa
Luwuraya.comLuwuraya.com
Font ResizerAa
Cari
  • Berita
    • Metro
    • Hukum
    • Politik
    • Ekonomi
    • Pendidikan
    • Luwu Timur
    • DPRD Luwu Timur
  • Wisata
    • Budaya
    • Kuliner
    • Rekreasi
  • Infografis
  • Lifestyle
    • Fashion
    • Hoby
    • Komunitas
  • Lainnya
    • Foto
    • Video
    • Opini
    • Sport
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Pengaduan
  • Redaksi
  • Tentang Kami
Beranda » Berita » LANDORUNDUN: dari Ulelean Pare Menjadi Novel
Budaya

LANDORUNDUN: dari Ulelean Pare Menjadi Novel

Redaksi
Redaksi Published 17 Maret 2011
Share
3 Min Read
SHARE

Barangkali, anak-anak kecil di Toraja tak lagi familiar dengan istilah ulelean pare. Sebuah tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun melalui beragam cerita yang sarat makna dan pesan-pesan hidup.

Ada cerita tentang Tulang Didi’ yang hidup kembali dari kematian setelah ‘ditolong’ oleh seekor ayam jantan yang kemudian membawanya terbang ke bulan.

Juga, kisah-kisah fabel seperti Seba sola Wati (Monyet dan Larva Kumbang), Seba sola Balao (Monyet dan Tikus), Sokko Mebali (Kerbau bertanduk menghadap tanah yang bisa berbicara), dan banyak lagi.

Baca Juga

Sugi PA Palopo Jadi Delegasi Indonesia di Festival Tari Topeng Internasional Korsel

Ulelean pare secara harfiah bisa diterjemahkan menjadi ‘obrolan padi’ ini kemudian menjadi dasar bagi Rampa’ Maega untuk menulis sebuah novel yang berjudul Landorundun. Selain berisi kisah utuh dari versi lisan cerita aslinya yang diwariskan turun-temurun, Landorundun juga berkisah tentang Kinaa Landorundun, perempuan berdarah Australia-Indonesia yang tak pernah menduga jika nama belakangnya terkait dengan sebuah cerita rakyat Toraja.

Tidak hanya karena kesamaan nama, tapi juga sekelumit kisah yang telah ratusan tahun menjadi sebuah rahasia. Perkenalannya dengan seorang pemuda Toraja bernama Bendurana lewat jejaring facebook membawa Kinaa menjelajahi eksotisme Toraja beserta peristiwa-peristiwa masa lalu yang ternyata masih berhubungan dengan masa lalunya sendiri. Kedua kisah ini – modern dan klasik – kemudian saling mengisi membentuk jalinan cerita yang terbentang dari Toraja hingga Australia.

Novel setebal 250 halaman ini ditulis selama kurang lebih 3,5 tahun, termasuk proses riset yang melibatkan beberapa tokoh adat dari berbagai kampung di Toraja, seperti Sesean, Sa’dan, dan La’bo’. Sebagai sebuah bentuk kekaguman penulisnya kepada cerita-cerita rakyat, Landorundun merupakan sebuah bentuk adaptasi terhadap cerita rakyat Toraja dengan judul yang sama.

Ada harapan agar melalui novel ini, generasi muda Toraja dapat kembali mengenali cerita-cerita rakyat kampung halaman, yang dulu hanya dikisahkan secara lisan dari generasi ke generasi. Dan untuk konteks yang lebih luas, semoga Landorundun – juga cerita-cerita rakyat Toraja lainnya – dikenal pula oleh masyarakat Indonesia secara umum, untuk ‘bersanding’ dengan Loro Jonggrang, Sangkuriang, dan Malin Kundang.

Salah satu tokoh masyarakat Toraja, Jonathan Para’pak, memberi apresiasi terhadap novel pertama dari Rampa’ Maega ini. Di sampul depan novel ini, Pak Para’pak memberikan endorsement seperti berikut: “Landorundun adalah karya yang patut dan harus kita baca dan beri penghargaan yang tinggi. Dalamnya kita menikmati legenda tradisional yang disandingkan dengan kehidupan modern. Karya ini mengedepankan nilai-nilai luhur budaya Toraja yang harus kita lestarikan dalam kehidupan modern. Semoga buku ini dinikmati oleh orang Toraja dan masyarakat luas.”

Tino Saroengallo, penulis buku ‘Ayah Anak Beda Warna! Anak Toraja Kota Menggugat, ikut pula memberikan endorsement untuk novel ini. Juga, seorang novelis nasional bernama Tasaro GK yang sudah menghasilkan belasan novel, seperti Galaksi Kinanthi dan Muhammad; Lelaki Penggenggam Hujan.

Nah, untuk anda yang ingin mengetahui lebih banyak soal novel Landorundun, bisa diakses di facebook http://www.facebook.com/pages/Novel-Landorundun/140161219373774#!/pages/Novel-Landorundun/140161219373774?sk=info)

Baca Juga Berita Rekomendasi Lainnya

Yusuf Pombatu Apresiasi Gerakan Bersih-Bersih “Mompokolena Inia” di Sorowako

Camat Nuha: Mompokolena Inia Sejalan dengan Program “Jum’at Bersih Juara”

Ngaben di Kertoraharjo: Suasana Haru, Doa, dan Pesan Persaudaraan dari Bupati Luwu Timur

Jihadin Paruge Harap Andi Hatta Marakarma Jadi Penjaga Marwah Budaya Luwu Timur

Pengukuhan Mincara Malili, Pemerintah Lutim Tegaskan Komitmen Lestarikan Budaya Adat

Share This Article
Facebook X Copy Link Print
Previous Article Ini Dia Musium Sepatu Terbesar Di Dunia
Next Article Hadir di Palopo, Sarana Futsal Terbesar di Indonesia Timur

Rekomendasi Berita lainnya

Budaya

Datu Luwu dan Wali Kota Palopo Tekankan Harmoni Budaya dan Pemerintah

29 Juni 2025
Budaya

Pemkab Lutim Siap Jadi Mitra Kedatuan dalam Menjaga Warisan Budaya Tana Luwu

28 Juni 2025
Budaya

Pekasiwia: Simbol Cinta Suku Pamona untuk Pemimpinnya

17 Juni 2025
Budaya

Vakum 13 Tahun, Lomba Perahu Bala-Bala Kembali Digelar di Sungai Malili

8 Juni 2025
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Pengaduan
  • Redaksi
  • Tentang Kami
Menu
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Pengaduan
  • Redaksi
  • Tentang Kami
© Kawal Media Consulting. Luwuraya Media Kreatif. All Rights Reserved.
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?