Niko (40) salah seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS) asal Kabupaten Nabire Provinsi Papua telah mendatangi kantor kepolisian Resor Luwu Timur, Kamis (13/11/14) sekitar pukul 13.00 wita kemarin.
Kedatangan tersebut guna memasukkan laporan tambahan terkait dugaan penipuan dan penggelapan dana senilai Rp2 Miliar yang dilakukan, Nasmasriati alias bidan Nur yang sat ini bekerja di Puskesmas Mangkutana, Kecamatan Mangkutana, Luwu Timur.
Niko menceritakan, dirinya sudah mengenal Bidan Nur sejak masih kanak-kanak sehingga tidak yakin jika dirinya akan tertipu hingga miliaran rupiah ini. Awalnya kata, Niko, Bidan Nur mengajak dirinya untuk membeli lahan untuk ditanami bibit sawit.
Ajakan ini langsung direspon baik sehingga dirinya pun mengajar empat orang teman lainnya untuk membeli lahan yang berlokasi di desa Kasintuwu, Mangkutana. “Teman saya bekerja sebagai pendulang emas di Papua, kalau saya PNS di kabupaten Nabire,” ungkap Niko kepada awak media.
Menurut bidan Nur, kata Niko ini, lahan tersebut ada namun dirinya (bidan Nur) tidak menunjukkan dokumen pendukung kepemilikan lahan. Selain itu, dari lokasi yang ada tidak sesuai dengan dana Rp2 Miliar yang telah diberikan baik secara tunai maupun melalui transfer ke rekening pribadi milik bidan ini.
“Lahan ada sekitar 12 hektar saja itupun lahan ini juga tidak mempunyai surat-surat pendukung kepemilikan, dari laporan bidan Nur dana yang terpakai hanya sebesar Rp750 juta sementara dana lainnya kemana?,” ungkap Niko.
Kapolres Luwu Timur, AKBP Rio Indra Lesmana melalui penyidik Briptu Musliadi yang ditemui diruang kerjanya mengatakan jika kasus ini sudah bergulir sejak bulan April 2014 lalu. Sebelumnya, korban telah mengadukan kejadian ini di Polsek Mangkutana.
“Ini adalah laporan tambahan korban karena laporan awalnya sudah dimintai di Polsek Mangkutana saat korban melapor kesana,” ungkap Musliadi.
Musliadi mengaku jika status kasus ini sudah naik dari tahap penyelidikan menjadi tahap penyidikan. “Kasus ini sudah tahap penyidikan,” ungkap Musliadi.
Sementara itu, Nasmasriati alias bidan Nur yang coba dikonfirmasi melalui via telepon, Sabtu (15/11/14) pagi ini tidak berhasil. Handpone pribadinya dalam keadaan tidak aktif atau diluar jangkauan. (*)