Luwuraya.comLuwuraya.comLuwuraya.com
  • Berita
    • Metro
    • Hukum
    • Politik
    • Ekonomi
    • Pendidikan
    • Luwu Timur
    • DPRD Luwu Timur
  • Wisata
    • Budaya
    • Kuliner
    • Rekreasi
  • Infografis
  • Lifestyle
    • Fashion
    • Hoby
    • Komunitas
  • Lainnya
    • Foto
    • Video
    • Opini
    • Sport
Font ResizerAa
Luwuraya.comLuwuraya.com
Font ResizerAa
Cari
  • Berita
    • Metro
    • Hukum
    • Politik
    • Ekonomi
    • Pendidikan
    • Luwu Timur
    • DPRD Luwu Timur
  • Wisata
    • Budaya
    • Kuliner
    • Rekreasi
  • Infografis
  • Lifestyle
    • Fashion
    • Hoby
    • Komunitas
  • Lainnya
    • Foto
    • Video
    • Opini
    • Sport
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Pengaduan
  • Redaksi
  • Tentang Kami
Beranda » Berita » Dinilai Lecehkan Budaya, Warga Turunkan Baliho FDM
Metro

Dinilai Lecehkan Budaya, Warga Turunkan Baliho FDM

Redaksi
Redaksi Published 23 November 2015
Share
2 Min Read
SHARE

Sejumlah baliho kegiatan Festival Danau Matano (FDM) telah diturunkan oleh masyarakat kecamatan Nuha, Kabupaten Luwu Timur yang menolak item kegiatan yang akan ditampilkan pada tanggal 27 hingga 29 November mendatang.

Pasalnya, panitia FDM itu dinilai telah melecehkan budaya warga setempat seperti mencantumkan nama tarian yang tertulis pada baliho dan umbul – umbul FDM itu yakni “Nohu Bangka (Tangkap Ikan)” sementara penulisan yang sebenarnya adalah “Nohu Bangka (Tumbuk Padi)”.

Kordinator aksi Musran mengaku tidak menerima pelecehan budaya tersebut. Terkait pelecehan itu, dirinya bersama – sama dengan warga setempat telah menurunkan seluruh baliho yang ada.

Baca Juga

Ratusan Rider Ramaikan Event Trail di Latimojong

Selain itu, baliho yang ada diluar wilayah kecamatan Nuha juga rencananya akan diturunkan.

Musran menegaskan, Pemerintah Daerah (Pemda) dan Event Organizer (EO) harus meminta maaf kepada media selama satu Minggu dan wajib mendatangi dewan adat di pesisir Matano untuk menyampaikan permohonan maaf.

“”Nohu Bangka” itu dibuat dalam tarian beralunan musik yang artinya tumbuk padi, sementara pada baliho tertulis Nohu Bangka (tangkap ikan). Ada juga tarian Monsando artinya (main dukun) sementara penulisan sebenarnya adalah Monsado artinya (tari perang), ini yang kami tidak terima,” ungkapnya.

Sementara itu, Penjabat Bupati Luwu Timur, Irman Yasin Limpo mengatakan, jika ada yang salah secara tehnis harus dibenarkan dengan cara yang baik. “Saya kira kalau ada salah tehnis harus dibenarkan tapi dengan cara yang baik,” ungkapnya.

Baca Juga Berita Rekomendasi Lainnya

Bupati Lutim Apresiasi Grand Final Duta Wisata 2026 di Malili

Luwu Timur Siap Punya Charging Station, Bupati Teken MoU Kendaraan Listrik

Irwan Bachri Syam Minta Dukungan PT Vale Kembangkan Wisata Sorowako

Bupati Lutra Dorong Petani Tingkatkan Produktivitas Sawah

Dua Putra Luwu Timur Wakili Sulsel di Kejurnas Taekwondo

Share This Article
Facebook X Copy Link Print
Previous Article Festival Danau Matano Tawarkan 7 Destinasi Wisata
Next Article Tokoh Adat Nuha Desak FDM Ditunda

Rekomendasi Berita lainnya

Ekonomi

Halalbihalal Bersama Forkopimda, PT Vale Perkuat Sinergi Bangun Luwu Timur

18 April 2026
Ekonomi

MIND ID Andalkan PT Vale Dorong Rantai Pasok Baterai EV

17 April 2026
Hukum

Aparat Tindak Dugaan Perambahan Hutan di Wilayah Konsesi PT Vale

17 April 2026
Ekonomi

Komisi XII DPR RI Apresiasi Langkah PT Vale Bangun Ekosistem Kendaraan Listrik

17 April 2026
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Pengaduan
  • Redaksi
  • Tentang Kami
Menu
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Pengaduan
  • Redaksi
  • Tentang Kami
© Kawal Media Consulting. Luwuraya Media Kreatif. All Rights Reserved.
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?