Umat islam tidak boleh saling mengkafirkan. Merasa paling benar menjadi salah satu celah masuknya paham teroris.
Makanya Nahdatul Ulama atau NU siap menjadi garda terdepan jika ada paham-paham atau aliran yang bertujuan merusak Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Pernyataan ini disampaikan KH Muhammad Bisri Al Fandi Pengasuh Pondok Pesantren. “Qomarul Hidayah” Kabupaten Trenggalek Provinsi Jawa Timur dihadapan ribuan jamaah.
Kegiatan Tablig Akbar dalam rangka peringatan Isra Mi’raj dan 13 Tahun Luwu Timur di Lapangan Desa Mulyasri Kecamatan Tomoni, Minggu (08/05/16).
Menurutnya, NU dan pemerintah sejak dulu selalu berdampingan. Makanya ia mengajak seluruh jamaah agar merapatkan barisan untuk menghalau paham-paham yang mengancam keutuhan NKRI.
Terkait Isra Mi’ raj, KH Muhammad Bisri mengatakan, meneladani Rasulullah Muhammad SAW harus betul-betul diteladani dalam kehidupan sehari-hari.
“Mendirikan sholat, menjalankan ibadah puasa, menunaikan Zakat, melaksanakan ibadah haji bagi yang mampu afalah perintah yang wajib dilaksanakan. Jika tidak dilakukan, itu islam KTP namanya,” tandasnya.
Bupati Luwu Timur, HM Thorig Husler mengaku bersyukur bisa bersilaturami dengan seluruh jamaah NU. Ia berharap agar kegiatan semacam ini dapat terus dilakukan secara berkala.
Pasalnya memberikan pencerahan dan bimbingan kepada umat islam agar tidak gampang terpecah belah sangat penting dilakukan.
“Mari kita selalu menjaga kebersamaan dan kedamaian di Bumi Batara Guru ini,” tutupnya.
Tabligh akbar ini juga dihadiri langsung Bupati Luwu Timur, HM Thorig Husler, Wakil Ketua DPRD, Aris Situmorang, Anggota DPRD, Tugiat, Rully Heriawan, Suwandi, dan Camat Tomoni, Hasis Dawi dan beberapa Kepala Desa se Kecamatan Tomoni.




