Dalam upaya menjaga kelestarian budaya dan bahasa daerah mereka, anak-anak muda di Wotu menghadirkan inovasi menarik dalam Higmis Fest 2025.
Pada festival tersebut, mereka mengadopsi konsep pembawa acara dalam empat bahasa, yakni Bahasa Arab, Bahasa Inggris, Bahasa Wotu, dan Bahasa Indonesia.
Langkah ini tidak hanya memperlihatkan keterbukaan mereka terhadap globalisasi tetapi juga menjadi bentuk nyata dalam melestarikan Bahasa Wotu, yang kini terancam punah.
Menurut UNESCO, Bahasa Wotu telah masuk dalam kategori hampir punah, dengan jumlah penutur yang diperkirakan kurang dari 100 orang.
Keberadaan acara seperti Higmis Fest menjadi sangat penting dalam menghidupkan kembali bahasa ini di kalangan generasi muda, sekaligus memperkenalkannya kepada masyarakat luas.
Dengan menggabungkan unsur budaya, edukasi, dan inovasi dalam acara ini, anak-anak muda di Wotu menunjukkan bahwa pelestarian budaya lokal bisa dilakukan dengan cara yang kreatif dan relevan dengan zaman.