Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Luwu Timur merilis data inflasi terbaru yang menunjukkan kenaikan tahunan (year-on-year) mencapai 2,94 persen pada November 2025.
Angka ini meningkat dibanding periode sebelumnya, menandakan tekanan harga masih terjadi di sejumlah kelompok pengeluaran.
Dalam data yang dirilis Senin (1/12/2025) disebutkan kenaikan indeks harga konsumen (IHK) menjadi 109,38 dipicu oleh menguatnya harga bahan pangan, khususnya ikan layang, beras, kopi bubuk, daging ayam ras, dan rokok SKM. Kelompok makanan, minuman dan tembakau mencatat inflasi tertinggi sebesar 4,74 persen.
Meski demikian, BPS mencatat pada bulan yang sama terjadi deflasi month-to-month sebesar 0,64 persen. Penurunan harga pada komoditas seperti ikan cakalang, ikan bandeng, beras, dan cabai rawit menjadi faktor utama yang menahan laju inflasi bulanan.
Kepala BPS Luwu Timur, Muhammad Husri Harta Saham menegaskan bahwa inflasi tahunan masih berada pada kategori terkendali, namun masyarakat tetap perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap pergerakan harga bahan pokok yang cepat berubah.
“Tekanan inflasi tetap harus diwaspadai, terutama dari kelompok pangan yang sensitivitasnya tinggi terhadap cuaca, distribusi, dan kondisi pasar. Stabilitas harga perlu terus dijaga,” ujarnya.
Selain pangan, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya turut menjadi penyumbang inflasi terbesar kedua dengan kenaikan 9,48 persen, didorong oleh naiknya harga sabun mandi, emas perhiasan, dan beberapa komoditas kebutuhan harian. Kelompok kesehatan dan transportasi juga menyumbang kenaikan meski dengan porsi lebih kecil.
BPS mengingatkan bahwa tren inflasi dapat berubah cepat pada musim penghujan dan periode liburan akhir tahun. Masyarakat diimbau untuk lebih cermat dalam berbelanja, menjaga pola konsumsi, dan tetap memantau harga di pasar.
Secara kumulatif Januari–November 2025, inflasi year-to-date Luwu Timur tercatat 2,43 persen.




