Sebulan setelah penyesuaian tarif air bersih mulai berlaku di Kabupaten Luwu Timur, dampaknya mulai tercermin dalam data resmi Badan Pusat Statistik (BPS). Pada Juni 2026, tarif air minum PAM tercatat sebagai salah satu komoditas yang mendorong inflasi tahunan (year-on-year/y-on-y) Luwu Timur hingga mencapai 4,32 persen.
Data tersebut tertuang dalam Berita Resmi Statistik (BRS) BPS Kabupaten Luwu Timur mengenai Perkembangan Indeks Harga Konsumen (IHK) Juni 2026. Kepala BPS Kabupaten Luwu Timur, Abdullah Pannu, menjelaskan inflasi terjadi akibat kenaikan harga pada sejumlah kelompok pengeluaran, terutama makanan, minuman dan tembakau, serta kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga.
Selain tarif air minum PAM, komoditas lain yang dominan menyumbang inflasi tahunan antara lain tomat, ikan cakalang, nasi dengan lauk, bawang merah, minyak goreng, daging ayam ras, bensin, angkutan antarkota, hingga emas perhiasan.
Secara khusus, pada kelompok Perumahan, Air, Listrik, dan Bahan Bakar Rumah Tangga, BPS mencatat inflasi tahunan sebesar 3,97 persen dengan andil terhadap inflasi umum sebesar 0,51 persen. Dari kelompok tersebut, tarif air minum PAM memberikan andil inflasi sebesar 0,28 persen, tertinggi dibanding komoditas lainnya dalam kelompok yang sama.
Sementara itu, secara bulanan (month-to-month/m-to-m), Luwu Timur mengalami inflasi sebesar 0,82 persen pada Juni 2026. Dalam periode ini, tarif air minum PAM kembali menjadi komoditas yang paling besar menyumbang inflasi pada kelompok perumahan dengan andil 0,27 persen.
Penyesuaian Tarif Berlaku Sejak 1 Juni
Penyesuaian tarif air bersih Perumdam Waemami mulai berlaku pada 1 Juni 2026. Saat itu, kebijakan tersebut memunculkan beragam tanggapan masyarakat yang mempertanyakan alasan kenaikan tarif di tengah meningkatnya biaya kebutuhan rumah tangga.
Direktur Perumdam Waemami, Andi Maryam MN Palullu, sebelumnya menjelaskan penyesuaian tarif di lakukan untuk menjaga keberlanjutan pelayanan air bersih, bukan untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Menurutnya, selama sekitar 23 tahun terakhir Perumdam Waemami hanya dua kali melakukan penyesuaian tarif, sementara biaya operasional seperti listrik, bahan kimia, pajak air baku, hingga pemeliharaan jaringan terus meningkat.
Ia juga mengungkapkan hasil audit Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) pada 2024 menempatkan Perumdam Waemami dalam kondisi financial stretch atau tekanan keuangan. Karena itu, BPKP merekomendasikan penyesuaian tarif agar perusahaan tetap mampu menjaga keberlanjutan layanan kepada pelanggan.
Meski demikian, Perumdam Waemami berkomitmen meningkatkan kualitas pelayanan seiring penyesuaian tarif. Salah satu targetnya ialah meningkatkan durasi distribusi air hingga 20 jam per hari, memperbaiki jaringan perpipaan, serta membangun infrastruktur baru untuk meningkatkan pasokan air bersih di sejumlah wilayah layanan.
Luwuraya berkomitmen untuk terus berdiri sebagai rumah informasi yang jujur dan objektif bagi masyarakat luas. Namun, kami tidak bisa berjalan sendirian. Kami memanggil semangat gotong royong khas kita. Jika hari ini berita kami pernah menemani, mengedukasi, atau memberi manfaat untukmu, sudilah kiranya meluangkan sedikit rezeki untuk "mentraktir kopi" tim di balik layar.

