Universitas Cokroaminoto Palopo (UNCP) memperkuat kesiapsiagaan masyarakat menghadapi bencana tanah longsor di Desa Boneposi dan Desa Tolajuk, Kecamatan Latimojong, Kabupaten Luwu, melalui program Desa Tangguh Bencana (Destana).
Program tersebut memanfaatkan hasil penelitian pemetaan kawasan rawan longsor yang kemudian diterapkan dalam pelatihan, simulasi, hingga penyusunan sistem mitigasi berbasis masyarakat.
Kegiatan yang berlangsung sepanjang Juni 2026 itu melibatkan Pusat Studi Pemetaan dan Bencana (PUSPENA) UNCP bersama PT Masmindo Dwi Area, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Luwu, Dinas Sosial Kabupaten Luwu, Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Luwu, pemerintah desa, dan masyarakat setempat.
Pemilihan Desa Boneposi dan Desa Tolajuk bukan tanpa alasan. Kedua desa berada di kawasan pegunungan Latimojong yang memiliki lereng curam dengan curah hujan tinggi, sehingga tergolong rawan bencana tanah longsor. Peristiwa longsor pada 3 Mei 2024 menjadi salah satu dasar penguatan upaya mitigasi di wilayah tersebut.
Penelitian Jadi Dasar Mitigasi Bencana
UNCP memulai program melalui penelitian lapangan untuk memetakan tingkat kerawanan longsor. Tim PUSPENA yang melibatkan lintas disiplin ilmu menjalankan survei geolistrik guna mengidentifikasi lapisan tanah yang berpotensi bergerak. Selanjutnya memadukannya dengan pemetaan udara dan pengamatan lapangan bersama masyarakat.
Hasil penelitian tersebut tidak berhenti sebagai laporan ilmiah. Tim PUSPENA bersama PT Masmindo Dwi Area mengembangkannya menjadi sistem WebGIS interaktif yang dapat dimanfaatkan sebagai sarana pemetaan kawasan rawan bencana.
Pada 19 Juni 2026, tim PUSPENA memaparkan hasil penelitian dan mendemonstrasikan WebGIS kepada BPBD Kabupaten Luwu. Hasil koordinasi itu kemudian mengarah pada penguatan program Desa Tangguh Bencana di 4 desa.
Warga Berlatih Hadapi Ancaman Longsor
Sebagai tindak lanjut penelitian, PUSPENA UNCP menginisiasi pembentukan kelembagaan Destana di Desa Boneposi dan Desa Tolajuk. Hal itu terlihat melalui lokakarya yang melibatkan pemerintah desa dan masyarakat.
Selanjutnya, pada 27–28 Juni 2026, warga mengikuti pelatihan dan simulasi kebencanaan bersama Pemkab Luwu, serta PT Masmindo Dwi Area.
Dalam kegiatan tersebut, masyarakat mempelajari kesiapsiagaan menghadapi bencana, pertolongan pertama, dukungan psikososial, pengelolaan logistik darurat, hingga penggunaan teknologi Early Warning System (EWS) dan teknik pencarian serta penyelamatan (Search and Rescue).
Warga juga mempraktikkan pendirian tenda darurat, pemasangan rambu jalur evakuasi dan titik kumpul, serta simulasi evakuasi.
Selain pelatihan, tim UNCP menyusun Buku Saku Desa Tangguh Bencana sebagai panduan bagi masyarakat. Buku tersebut memuat informasi ancaman bencana di Kecamatan Latimojong. Isinya berupa langkah kesiapsiagaan, serta panduan menghadapi gempa bumi, banjir, tanah longsor, puting beliung, kekeringan, hingga kebakaran hutan dan lahan.
Program penguatan Destana akan berlanjut melalui pemasangan rambu kebencanaan dan simulasi berkala. Hal itu agar kesiapsiagaan masyarakat, kelembagaan desa, jalur evakuasi, dan titik kumpul tetap terjaga dalam menghadapi potensi bencana di kawasan Latimojong.
Luwuraya berkomitmen untuk terus berdiri sebagai rumah informasi yang jujur dan objektif bagi masyarakat luas. Namun, kami tidak bisa berjalan sendirian. Kami memanggil semangat gotong royong khas kita. Jika hari ini berita kami pernah menemani, mengedukasi, atau memberi manfaat untukmu, sudilah kiranya meluangkan sedikit rezeki untuk "mentraktir kopi" tim di balik layar.

