Selama bertahun-tahun, banyak masyarakat mengidentikkan Hari Jadi Kabupaten Luwu dengan Hari Jadi Kota Belopa yang diperingati setiap 13 Februari. Di sisi lain, masyarakat Tana Luwu juga telah lama memperingati Hari Jadi Luwu setiap 21 Januari sebagai penanda lahirnya Kedatuan Luwu.
Kini, Pemerintah Kabupaten Luwu memperingati Hari Jadi Kabupaten setiap 4 Juli. Tradisi itu mulai berjalan sejak 2025. Lalu, mengapa Kabupaten Luwu memiliki hari jadi yang berbeda dengan Hari Jadi Luwu?
Jawabannya tidak lepas dari perjalanan panjang sejarah daerah ini. Kabupaten Luwu dan Tana Luwu memang saling berkaitan, tetapi keduanya lahir dari dua peristiwa sejarah yang berbeda.
Momentum itu kembali terlihat saat Bupati Luwu, Patahudding, bersama jajaran pemerintah berziarah ke makam Pahlawan Nasional Andi Djemma di Taman Makam Pahlawan Panaikang serta makam mantan Bupati Luwu, Andi Rompegading, di Pekuburan Arab Bontoala, Makassar, Senin (22/6/2026).
Ziarah tersebut menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Jadi Kabupaten Luwu ke-67. Namun, lebih dari sekadar tradisi tahunan, kegiatan itu mengajak masyarakat menengok kembali perjalanan panjang yang melahirkan Kabupaten Luwu seperti sekarang.
Dua Hari Jadi, Dua Penanda Sejarah
Banyak daerah di Indonesia menetapkan hari jadinya dengan menelusuri sejarah tertuanya Karena itu, tidak sedikit kabupaten atau kota yang memiliki usia ratusan bahkan ribuan tahun.
Luwu memiliki pendekatan yang berbeda. Melalui Tudang Ade atau musyawarah Dewan Adat Luwu pada 1994 yang melibatkan pemangku adat, tokoh agama, sejarawan, budayawan, serta veteran. Dalam pertemuan itu, para tokoh menyimpulkan bahwa Hari Jadi Luwu setiap 21 Januari.
Penetapan itu mengacu pada masa pemerintahan To PappoataE Datu Simpurusia pada 1268 Masehi. Dengan dasar tersebut, usia Luwu sebagai Kedatuan atau Tana Luwu telah mencapai 758 tahun pada 2026.
Hari Jadi Luwu itu menjadi identitas bersama seluruh masyarakat Tana Luwu. Sebab, sejarah Kedatuan Luwu tidak hanya menjadi milik Kabupaten Luwu, tetapi juga menjadi akar sejarah Kota Palopo, Kabupaten Luwu Utara, dan Kabupaten Luwu Timur.
Karena itulah Kabupaten Luwu tidak menggunakan sejarah Kedatuan sebagai dasar penetapan hari lahir pemerintahannya.
Mengapa Kabupaten Luwu Memilih 4 Juli?
Kabupaten Luwu memilih mengikuti hari lahir administrasi pemerintahan modern.
Kabupaten Luwu resmi berdiri berdasarkan Undang-Undang Nomor 29 Tahun 1959 tentang Pembentukan Daerah Tingkat II di Sulawesi. Undang-undang tersebut mulai berlaku pada 4 Juli 1959.
Tanggal itulah yang kini diperingati sebagai Hari Jadi Kabupaten Luwu.
Dengan demikian, usia Kabupaten Luwu yang kini memasuki 67 tahun bukan menunjukkan pendeknya sejarah Luwu. Sebaliknya, angka itu menandai lahirnya pemerintahan daerah dalam sistem administrasi Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Sementara itu, sejarah Luwu sebagai sebuah peradaban tetap hidup melalui peringatan Hari Jadi Luwu setiap 21 Januari.
Mengapa Baru Diperingati Mulai 2025?
Meski dasar hukum pembentukan Kabupaten Luwu sudah ada sejak 1959, Pemerintah Kabupaten Luwu baru mulai memperingati Hari Jadi Kabupaten setiap 4 Juli pada 2025.
Sebelumnya, masyarakat lebih mengenal 13 Februari sebagai momentum penting Kabupaten Luwu karena bertepatan dengan Hari Jadi Kota Belopa. Tanggal tersebut juga identik dengan perpindahan pusat pemerintahan Kabupaten Luwu ke Belopa yang diresmikan pada 13 Februari 2006.
Dalam perkembangannya, Hari Jadi Belopa dan Hari Jadi Kabupaten Luwu memiliki makna yang berbeda.
Belopa tetap menjadi bagian penting dalam sejarah pemerintahan Kabupaten Luwu sebagai ibu kota daerah. Sementara itu, 4 Juli menjadi penanda lahirnya Kabupaten Luwu sebagai daerah administratif berdasarkan undang-undang.
Perbedaan itu bukan untuk mengganti sejarah yang sudah ada, melainkan memberikan pemahaman yang lebih utuh mengenai perjalanan Kabupaten Luwu.
Menghormati Sejarah, Menjaga Identitas
Bupati Luwu, Patahudding, mengatakan semangat pengabdian para pendahulu harus terus menjadi inspirasi dalam membangun daerah.
“Semangat pengabdian, kepemimpinan, dan kecintaan terhadap daerah yang diwariskan para pendahulu harus terus menjadi inspirasi dalam membangun Kabupaten Luwu yang lebih maju dan sejahtera,” ujarnya.

Pesan itu menjelaskan mengapa rangkaian Hari Jadi Kabupaten Luwu selalu diawali dengan ziarah kepada para tokoh yang telah meletakkan dasar perjuangan dan pemerintahan di Tanah Luwu.
Tradisi tersebut bukan sekadar mengenang masa lalu. Ziarah menjadi pengingat bahwa Kabupaten Luwu yang hari ini berusia 67 tahun berdiri di atas jejak sejarah Luwu yang telah terbentang selama berabad-abad.
Karena itu, Hari Jadi Luwu setiap 21 Januari dan Hari Jadi Kabupaten Luwu setiap 4 Juli bukanlah dua peringatan yang saling menggantikan. Keduanya justru saling melengkapi.
Yang satu merawat ingatan tentang lahirnya Kedatuan Luwu sebagai identitas bersama Tana Luwu, sedangkan yang lain menandai lahirnya pemerintahan modern Kabupaten Luwu sebagai bagian dari perjalanan panjang sejarah tersebut.
Luwuraya berkomitmen untuk terus berdiri sebagai rumah informasi yang jujur dan objektif bagi masyarakat luas. Namun, kami tidak bisa berjalan sendirian. Kami memanggil semangat gotong royong khas kita. Jika hari ini berita kami pernah menemani, mengedukasi, atau memberi manfaat untukmu, sudilah kiranya meluangkan sedikit rezeki untuk "mentraktir kopi" tim di balik layar.

