Prospek bisnis PT Vale Indonesia Tbk pada tahun 2026 dipandang semakin positif, ditopang oleh ekspansi proyek strategis, peningkatan produksi, serta peluang pemulihan harga nikel global.
Salah satu katalis utama adalah dimulainya aktivitas penambangan penuh di Pomalaa yang sebelumnya masih terbatas pada tahap uji coba.
Langkah ini diyakini akan mendorong peningkatan volume produksi dan penjualan bijih nikel secara signifikan sepanjang tahun 2026.
Selain itu, progres pembangunan proyek hilirisasi melalui fasilitas High Pressure Acid Leach (HPAL) di Pomalaa yang telah mencapai sekitar 50 persen konstruksi, turut memperkuat posisi Vale dalam rantai pasok industri baterai kendaraan listrik global. Proyek ini ditargetkan mencapai tahap penyelesaian mekanis awal pada triwulan III 2026.
Dari sisi operasional, penyelesaian pembangunan kembali Furnace 3 yang ditargetkan rampung pada Mei 2026 juga akan menjadi faktor penting dalam meningkatkan kapasitas produksi serta efisiensi jangka panjang perusahaan.
Analis dari MNC Sekuritas, Raka Junico, menilai bahwa pada 2026 Vale berpotensi mengoptimalkan kuota penjualan bijih nikel sekaligus memperoleh sentimen positif dari potensi kenaikan harga nikel global.
“Strategi penjualan bijih nikel menjadi langkah efektif untuk menjaga pertumbuhan pendapatan di tengah tekanan harga,” ungkapnya seperti dikutip dari kontan.co.id.
Kinerja 2025 Jadi Fondasi
Optimisme terhadap 2026 tidak lepas dari capaian kinerja sepanjang 2025 yang cukup solid.
Vale membukukan pendapatan sebesar USD990,19 juta, meningkat 4,18 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara itu, laba bersih mencapai USD76,06 juta, tumbuh signifikan sebesar 31,68 persen secara tahunan.
Presiden Direktur Vale, Bernardus Irmanto, menyebut bahwa kinerja ini mencerminkan komitmen perusahaan dalam menjaga keandalan operasional di tengah dinamika pasar global.
Dari sisi produksi, volume nikel matte mencapai 72.027 metrik ton, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Pengiriman juga naik menjadi 73.093 ton, yang turut menopang pendapatan perusahaan.
Meski demikian, tantangan tetap datang dari penurunan harga nikel global, dengan harga realisasi rata-rata turun sekitar 7 persen menjadi USD12.157 per ton.
Vale juga menunjukkan disiplin biaya yang kuat. Unit biaya kas penjualan tercatat sebesar USD9.339 per ton, menjadi yang terendah dalam empat tahun terakhir.
Di sisi lain, bisnis bijih nikel mulai memberikan kontribusi signifikan dengan penjualan mencapai 2,31 juta wet metric tons sepanjang 2025, terutama dari blok Bahodopi.
Dari sisi investasi, perusahaan mengalokasikan belanja modal sebesar USD485,9 juta, meningkat 46 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Dana ini difokuskan untuk pengembangan proyek strategis serta menjaga keberlanjutan operasional.
Dengan kombinasi ekspansi produksi, percepatan hilirisasi, serta potensi perbaikan harga komoditas, PT Vale berada pada jalur pertumbuhan yang semakin kuat.
Perusahaan juga menargetkan peningkatan kapasitas produksi hingga dua kali lipat dalam jangka panjang, seiring pengembangan proyek di Pomalaa dan Sorowako.
Kondisi ini menegaskan bahwa tahun 2026 menjadi momentum penting bagi PT Vale untuk memperkuat posisinya sebagai pemain kunci dalam industri nikel global sekaligus mendukung ekosistem kendaraan listrik yang terus berkembang.





