Sejak dibentuk pada 18 Desember 2013 kemarin, eksistensi keberadaan Forum Kakao Luwu Raya (FKLR) dimulai. Rapat perdana yang dipimpin Ketua Umum Terpilih, Sam Sumastono membahas pokok-pokok akta pendirian organisasi.
Rapat yang dihadiri seluruh dewan majelis, tim teknis dan badan pengurus itu berlangsung santai dan sedikit cair. Tidak ada adu argumen yang serius. Yang sedikit alot soal perubahan nama Forum Kakao Luwu Raya menjadi Forum Masyarakat Kakao Luwu Rara atau disingkat Formaskra.
Dari pihak PT Mars selaku pendamping misalnya mempertanyakan perubahan nama FKLR menjadi Formaskra. Pemakaian kalimat ‘Masyarakat Kakao’ dirasa keliru karena ruang lingkupnya menjadi luas, tidak fokus pada petani kakao.
Namun, setelah dijelaskan bahwa pemakaian kalimat ‘Masyarakat Kakao’ dikarenakan ruang lingkup dari organisasi ini memang luas, mulai dari hulu ke hilir, mulai dari penanaman sampai industrinya.
“Jadi bukan hanya petani kakaonya saja yang menjadi sasaran dan perhatian kita, tetapi semua pelaku kakao, dari hulu ke hilir,” jelas Sumastono pada pertemuan yang digelar di Aula Bappeda Lutra, Rabu (15/1/14).
Dalam pertemuan, Sumastono berharap agar forum kakao tidak dimanfaatkan untuk kepentingan-kepentingan yang dapat membuat forum tidak berjalan, dan merusak eksistensi dari forum tersebut.
“Keberadaan forum ini harus kita dukung bersama. Jangan forum ini dimanfaatkan untuk kepentingan tertentu yang muaranya bisa merusak eksistensi forum ini,” harap mantan Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan era Bupati Lutra, Luthfi Andi Mutty ini.
Kalau tidak ada aral melintang, momentum Hari Jadi Luwu yang dipusatkan di Kota Palopo pada 23 Januari mendatang akan dijadikan sebagai awal perjuangan Formaskra melalui penandatanganan MoU seluruh Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota se-Tana Luwu.
“Mari kita jadikan momentum Hari Jadi Luwu sebagai awal perjuangan kita untuk melakukan tindakan bersama dalam rangka mendukung pengembangan kakao di Tana Luwu ini. Kalau tidak ada aral melintang, penandatangan MoU nantinya kita lakukan pada saat Hari jadi Luwu,” pungkas Sumastono, yang juga mantan Ketua Paguyuban Mitra Sehati Lutra itu.




