Sebut rekan sesama partainya tidak fair pada Pemilu lalu, Caleg DPRD Provinsi Sulawesi Selatan, Arham Basmin Mattayang akhirnya memutuskan mundur dari jabatannya sebagai Ketua Harian DPD Partai Golkar Luwu, dan Ketua Umum Pengurus Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (AMPI) Sulawesi Selatan.
Keputusan Arham itu menyusul temuan yang didapatkan oleh timnya yang menyebutkan ada skenario yang sengaja dibuat oleh jajaran elit partai Golkar agar dirinya tidak duduk di kursi legislatif.
Dia merincikan, berdasarkan perhitungan yang dilakukan oleh timnya sesuai laporan seluruh saksi di TPS, dirinya menduduki posisi kedua perolehan suara terbanyak dari Partai Golkar, dapil XI Sulsel, setelah Muhammad Riza Arifin Junaidi diposisi pertama, dan Rahmat Masri Bandaso di posisi ketiga.
“Contohnya di Kabupaten Luwu Timur, Arham memperoleh total suara sebanyak 704 suara di tiga kecamatan, tapi lucunya setelah rekap dilakukan di KPU Luwu Timur, suara Arham tinggal 498 saja,” ujar Faisal, koordinator tim Arham Basmin.
Dia pun menduga ada skenario yang sengaja dibuat untuk mendudukkan caleg tertentu di partai itu yang memiliki suara sedikit. Dia pun menyebut nama Armin Mustamin Toputiri yang sebelumnya justru pada posisi ke empat, namun setelah rekapitulasi dilakukan di tingkat KPU justru memperoleh suara terbanyak kedua setelah Riza.
“Saya heran dengan perolehan suara caleg Golkar atas nama Armin Mustamin Toputiri, suaranya yang semula hanya empat ribuan saja, tiba-tiba terdongkrak menjadi lebih dari 16ribu, saya yakin permainan suara ini tidak lepas dari peran internal partai Golkar yang tidak menginginkan saya duduk,” ungkap Arham.
Sebagai bentuk kekecewaannya, Arham beserta timnya pun melakukan aksi membakar atribut Partai Golkar di depan kediamannya di Belopa, Kabupaten Luwu, dan menyatakan dengan resmi keluar dari Partai Golkar dan AMPI.




