Dua kelompok warga di perbatasan antara Kabupaten Luwu dengan Luwu Utara kembali terlibat tawuran antar kelompok, Sabtu (6/9/14) sejak pagi hingga siang hari tadi. Tawuran ini merupakan aksi susulan pasca tawuran antara warga yang sama beberapa waktu lalu.
Pantauan Luwuraya.com, tawuran yang melibatkan dua kelompok warga yakni dari Desa Pongko, Kabupaten Luwu dengan Warga Desa Kalotok, Kabupaten Luwu Utara ini, membuat kemacetan panjang jalur trans Sulawesi dari arah Makassar, maupun sebaliknya.
Warga dengan bersenjatakan parang, batu, anak panah, senjata rakitan, dan senjata api tradisional jenis Papporo saling membalas serangan. Aparat kepolisian dari Polres Luwu dan Luwu Utara yang turun ke lokasi untuk mengamankan, tampak kewalahan diakibatkan kalah jumlah dengan massa yang terlibat tawuran. Beruntung tidak ada korban jiwa akibat tawuran ini.
Warga pun memasang drum di tengah jalan untuk menghalau serangan dari pihak lawan. Kendaraan yang akan melintas terpaksa mengurungkan niatnya karena massa dari kedua belah pihak tampak tidak bisa dikendalikan lagi.
Tawuran baru mereda ketika pihak kepolisian dibantu dengan Pemerintah Kabupaten Luwu Utara yang diwakili oleh Indah Putri Indriani, Wakil Bupati Luwu Utara, turun ke lokasi untuk mengupayakan pembicaraan antara kedua belah pihak.
Indah mengatakan, pihaknya tengah melakukan negosiasi untuk upaya perdamaian antara kedua pihak bertikai, agar konflik yang terjadi tidak berkepanjangan. “Kami mengupayakan rekonsiliasi antara kedua pihak, karena akibat konflik ini, masyarakat menderita kerugian yang amat besar,” ujar Indah.
Kapolres Luwu, AKBP Alan Gerrit Abast yang dikonfirmasi mengatakan pihaknya melibatkan nsur muspida dari kedua pemerintah daerah untuk mengupayakan pembicaraan damai antar dua kelompok warga ini.
Sebagai langkah awal, pihak kepolisian pun memberlakukan jam malam untuk kedua desa yang dimulai hari ini. “Mari kita sama-sama menjaga kondisi, kepada warga pun kami meminta untuk tidak mudah terprovokasi dengan isu-isu yang menyulut pertikaian. Jika ada persoalan, silahkan laporkan kepada pihak berwajib dan tidak main hakim sendiri,” imbau Alan.
Sementara itu, sejak pertikaian antar warga di daerah tapal batas kabupaten itu, membuat warga sekitar mengaku mengalami kerugian sejak sebulan terakhir. Pasalnya, setiap kali terjadi penyerangan, rumah dan harta benda warga yang tinggal di lokasi pertikaian menjadi sasaran amukan.
Mahmud, warga Desa Kalotok mengaku setiap kali terjadi tawuran, dirinya beserta keluarga memilih untuk mengungsi ke pos polisi yang ada di sekitar desanya. Pasalnya, amukan warga yang bertikai, kerap membuat harta bendanya rusak akibat lemparan batu, maupun terkena peluru dari senjata api rakitan dan papporo.
“Barang-barang rusak semua pak, apalagi jualan saya seperti bensin botolan yang hancur setiap kali ada penyerangan, kami meminta agar polisi bisa bertindak tegas akar konflik ini segera mereda,” keluhnya.




