Jos atau “jangan omong saja” menjadi kata pamungkas yang terus menerus digaungkan Ketua Joglo Tani Sleman, Yogyakarta, T.O Suprapto saat menjadi narasumber pada diskusi pertanian terpadu yang diikuti puluhan kelompok tani, koordinator BP3K dan para penyuluh di Aula Badan Pelaksana Penyuluh Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (BP4K) Kabupaten Luwu Timur, Rabu (01/10).
Diskusi yang difasilitasi Program Terpadu Pengembangan Masyarakat (PTPM) dan A+CSR menghadirkan T.O Suprapto pendiri Joglo Tani dengan slogan ” Monumen Kebangkitan Petani Indonesia ” yang telah melahirkan konsep pertanian Manajemen Akar Sehat (MAS) atau lebih populer dengan istilah System of Rice Intensification (SRI). Metode ini terbukti
meningkatkan hasil pertanian dan juga ramah lingkungan.
Dalam diskusi tersebut, TO Suprapto mengatakan petani di Indonesia belum merdeka. Mereka hidup di bawah tekanan ekonomi, alam, sosial, budaya, globalisme, dan kebijakan. Oleh karena itu, TO Suprapto terus mendorong petani di Luwu Timur untuk mulai memikirkan membangun konsep Joglo Tani sebagai sebuah gerakan kebangkitan petani.
Dijelaskannya, Joglo Tani miliknya hanya menempati lahan seluas 8.000 meter persegi. Selain membangun pendopo untuk berkumpul dan mencipatakan laboratorium alam, dirinya menanam padi, beternak, dan membangun kolam ikan. Ia juga mendapat penghasilan harian dari menjual telur itik serta mengolah dan menetaskannya. Penghasilan juga dia dapat dari panen ikan, padi, sayur, serta menjual ternak.
“Intinya memanfaatkan lahan secara optimal sehingga penghasilan petani bertambah mulai dari harian, bulanan hingga tahunan,” jelasnya.
Namun kata Suprapto, harapan yang baik hanya bisa tercapai dengan kesungguhan yang konsisten atau pepatah Jawanya “Talesing Sedyayu Tinulad Ing Wignya Lan Sembada,” katanya.
Olehnya itu ia berharap, konsep wadah pembelajaran Joglo Tani bisa dikembangkan hingga ke seluruh Nusantara. Ia mengajak petani untuk tidak kecewa terhadap keadaan, tetapi bergerak maju dengan kemandirian.
Managemen PT Vale Indonesia yang di wakili oleh Basrie Kamba, Direktur Coorporate and External Affair dalam sambutannya menyatakan bahwa PT Vale Indonesia sangat ingin memberikan kontribusi yang berarti kepada daerah dan masyakat Luwu Timur khususnya di wilayah pemberdayaan melalui PTPM.
“Walaupun sumbangsih ini mungkin saja kecul akan tetapi diharapkan dapat memberikan dampak yang signifikan, di ibarat sandal jepit yang bisa dipakai ke mesjid untuk beribadah,” ujar Basrie Kamba.
Selain itu, manajemen PT Vale Indonesia berharap kepada Tim Koordinasi PTPM dan jajaran pemerintah daerah untuk selalu membantu dan mengawal program CSR perusahaan agar lebih bermanfaat bagi daerah dan masyarakat.
Salah seorang petani di Desa Pongkeru Kecamatan Malili, Umar yang hadir dalam diskusi tersebut telah bersedia mewakafkan sebagian lahannya untuk dijadikan joglo tani. Meski hanya seminggu mengikuti pelatihan di Joglo Tani Suprapto di Sleman, Umar tertarik untuk
mewujudkan Joglo Tani di Kabupaten Luwu Timur.
Sebelumnya Diskusi diawali pemaparan potensi pertanian dalam arti luas oleh Kepala BP4K Nursih Hariani. Hadir pula Basri Kamba mewakili Manajemen PT Vale Indonesia TBK dan Kepala Bappeda, Muhammad Abrinsyah dan para Camat. (*)




