Mantan Ketua DPRD Luwu Utara, Basir yang menjadi korban pembakaran rumah konflik di kecamatan Bone-Bone mengaku sempat menghubungi polisi sebelum insiden yang mengakibatkan kediamannya hangus dibakar massa.
Kepada Luwuraya.com, Basir mengaku sempat menghubungi Kapolres Luwu Utara, AKBP Hery Marwanto via telepon, melaporkan tentang situasi di sekitar kediamannya yang mulai memanas. Dia juga mengaku sempat menyampaikan jika ada kemungkinan massa akan melakukan tindakan anarkistis seperti membakar rumah.
“Sesaat sebelum rumah saya dibakar, saya sempat menelpon ke Kapolres, namun dia hanya menanyakan apakah sudah ada yang meninggal atau belum,” ujar Basir.
Dia menyayangkan sikap polisi yang tidak mengambil langkah antisipasi, dan bahkan terkesan melakukan pembiaran, sehingga mengakibatkan sebanyak 21 rumah dirusak, dan dibakar massa pada insiden keributan di Kecamatan Bone-Bone sejak Sabtu (11/10/14) lalu.
Menurut Basir, konflik yang terjadi di Kecamatan Bone-Bone sebenarnya sudah terjadi sejak lama yang diketahuinya disebabkan oleh persoalan sepele, yakni keributan antar anak muda di daerah itu. Potensi konflik besar sebenarnya sudah sejak awal bisa dideteksi, dan dirinya sudah pernah meminta kepada pemerintah dan kepolisian untuk mengambil sikap antisipasi.
“Hanya saja saya sayangkan, tidak ada langkah nyata yang diambil pemerintah dan polisi guna mengantisipasi pecahnya konflik, apalagi saat ini konflik antar warga ini sudah mengarah pada isu etnis,” ungkapnya.
Sebagai solusi, Basir menyarankan kepada pemerintah dan polisi untuk melakukan pertemuan dengan melibatkan elemen pemuda setempat, unsur tokoh masyarakat, dan pihak terkait guna mencari akar persoalan untuk segera didamaikan.
“Tidak bisa hal ini terus dibiarkan berlarut-larut, masyarakat sudah hidup dalam keresahan karena merasa tidak aman. Saya saja sekarang terpaksa mengungsi ke rumah kerabat di Kabupaten Soppeng bersama kaluarga untuk mengamankan diri untuk sementara waktu,” tegasnya.
Kapolres Luwu Utara, AKBP Hery Marwanto yang dimintai konfirmasi membantah dirinya tidak merespon laporan dari Basir tersebut. Menurutnya, Menurutnya, saat kejadian polisi berada di lapangan untuk menghalau massa yang mulai bertindak anarkistis.
“Memang benar saya waktu itu ditelepon beliau (Basir), dan langsung saya perintah Kabag Ops untuk langsung turun melakukan pengamanan, namun tidak bisa serta merta turun ke lokasi karena banyaknya massa yang ada saat itu,” ujar Hery.
Dia pun menyebutkan, saat ini ada kesan masyarakat menyalahkan polisi, padahal sejak awal pihaknya sudah meminta seluruh tokoh masyarakat, tokoh adat, dan tokoh pemuda untuk meredam konflik. Termasuk Basir, menurut Hery, merupakan tokoh masyarakat yang sudah diminta ikut terlibat untuk meredam konflik yang terjadi di Kecamatan Bone-Bone, hanya saja kami menyayangkan karena justru anggota DPRD Lutra ini yang terkesan tidak merespon.
“Beliau ini (Basir) kan tokoh masyarakat di Dusun Kopi-Kopi, sejak awal kami sudah meminta beliau turun tangan untuk melakukan pendekatan ke masyarakatnya agar konflik tidak meluas, namun tidak direspon. Sampai akhirnya konflik meluas dan berujung insiden pembakaran, justru sekarang polisi yang mau disalahkan,” keluhnya.
Saat ini, Hery mengaku pihaknya bekerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Luwu Utara berupaya mempertemukan semua elemen masyarakat yang bekentingan untuk duduk bersama membicarakan dan mencari akar persoalan, agar warga yang terlibat konflik bisa segera berdamai.




