Manager PT PLN Cabang Palopo, Paultje mangundap meminta pemerintah dan masyarakat di Kabupaten Luwu Timur untuk tidak sepenuhnya menyalahkan kondisi krisis listrik di daerah itu, kepada PT PLN. Pasalnya, pihak PLN diklaim sudah berupaya maksimal dalam mengatasi kirisi listrik di daerah itu.
Dia juga menuding, jika kondisi kelistrikan di Lutim saat ini, juga karena ada kontribusi kesalahan dari pemerintah dan masyarakat Luwu Timur sendiri.
Dia merincikan, kesalahan pemerintah sehingga terjadi krisis listrik di Luwu Timur salah satunya karena keterlambatan pemerintah setempat melakukan pembebasan lahan untuk pembangunan Gardu Induk (GI) di Kecamatan Wotu, yang berdampak pada molornya proses pembangunannya.
“GI di Wotu itu terlambat pembangunannya karena pemerintah lambat melakukan pembebasan lahan, nah dampaknya seperti yang terjadi saat ini kebutuhan daya listrik di Lutim menjadi tidak mencukupi,” tegasnya.
Menurutnya, kondisi listrik saat ini di Luwu Timur masih mengalami devisit daya sebesar 3 Mega Watt (MW) dari total kebutuhan listrik disaat beban puncak sebesar 13 MW. “Kami sudah berulang kali menyampaikan solusi kelistrikan ini ke pemerintah, namun tampaknya hingga kini tidak pernah ditindak lanjuti,” tegasnya.
Solusi yang ditawarkan PLN yakni meminta pemerintah melakukan lobi ke PT Vale Indonesia untuk menyumbangkan lagi listrik sebesar 3 MW untuk menutupi devisit daya yang terjadi saat ini.
“Ini solusi untuk sementara waktu saja, tidak perlu sepanjang hari sumbangan listrik dari PT Vale Indonesia, cukup pada saat malam hari atau beban puncak saja, dan hingga pembangunan GI di Malili dan Wotu selesai terlaksana,” beber Paultje.
Solusi lainnya, yakni dengan mempercepat realisasi pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) di Desa Ussu, Kecamatan Malili, oleh PT Bukaka Group yang terkendala pada pemasangan pipa yang belum mendapat izin dari pemerintah.
“Pembangunan PLTA Ussu ini sudah mencapai 70 persen, jika pembangunannya tuntas, bisa menyumbangkan listrik sebesar 2 MW, dan ini juga merupakan salah satu solusi untuk memenuhi kebutuhan listrik di Lutim,” ungkap Pautje.
Dia mengatakan, jika solusi yang ditawarkan ini tidak dijalankan, maka dia memprediksi kondisi listrik baru normal paling lambat 2017 mendatang. “Baru normal jika GI di Wotu dan Malili dapat difungsikan, dan hal itu baru terwujud paling lambat tahun 2017 mendatang, dengan estimasi pembangunan GI Wotu dikerjakan sekitar dua tahun lamannya,” kata Paultje.
—————————————–
Grafis:
- Total Kebutuhan Daya di Lutim (Beban Puncak) = 13 MW
- Sumbangan Listrik dari PT Vale Indonesia = 8 MW
- Sumbangan Listrik dari PLTM Salunoa = 2 MW
- Total devisit saat ini = 3 MW




