Mahasiswa Kecamatan Wotu dan Burau yang tergabung dalam aliansi masyarakat Luwu Timur bersikap menggelar aksi demonstrasi di kantor Perusahaan Listrik Negara (PLN) di Kecamatan Mangkutana, Kamis (23/7/15).
Aksi demonstrasi itu digelar terkait kerapnya terjadi pemadaman listrik diwilayah bumi batara guru khususnya di dua kecamatan tersebut yakni, Wotu dan Burau.
Koordinator Lapangan (Korlap), Untung Amir, meminta kepada PLN untuk memberikan pelayanan prima kepada masyarakat khususnya di Kecamatan Wotu dan Burau.
Itu dilakukan, kata Untung, karena beberapa bulan terakhir PLN kerap melakukan pemadaman listrik. “Aksi ini juga sudah kita koordinasikan dengan teman – teman mahasiswa lainnya yang ada di 11 kecamatan di Luwu Timur,” ungkap Untung.
Dalam aksi ini, kata Untung, masyarakat menuntut agar PLN segera menghentikan pemadaman listrik dan mencari alternatif atau solusi lain agar pemadaman itu tidak terjadi lagi di dua kecamatan tersebut.
Selain itu, PLN juga diminta agar rutin mensosialisasikan pemadaman jika pihak PLN akan melakukan pemadaman bergilir.
“Jika hal tersebut tidak dilakukan maka PLN harus memberikan kompensasi kepada masyarakat Luwu Timur khususnya masyarakat Wotu dan Burau, baik berupa kompensasi pengurangan atau pemotongan 50 persen dari total tagihan listrik hingga pemadaman tidak terjadi lagi,” ungkapnya.
Sementara itu, Manager PT PLN Cabang Palopo, Paultje Mangundap, mengatakan, pemadaman yang kerap diterjadi di Luwu Timur khususnya di wilayah Wotu dan Burau itu disebabkan karena kondisi krisis daya karena disuplai dari Palopo.
Sehingga untuk mengantisipasi hal tersebut perlu dibangunkan Gardu Induk (GI) di Kecamatan Wotu. Menurut Paultje, awal tahun 2017 mendatang GI Wotu sudah bisa beroperasi.
“PLN sudah berupaya untuk membangun, harusnya GI Wotu itu satu paket dengan GI Malili tetapi GI Wotu terkendala proses pembebasan lahan saat itu,” ungkapnya.




