LUWU TIMUR – Kepala Bidang Keluarga Berencana, Suliati memaparkan capaian-capaian program dan kegiatan Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (P2KB) Kabupaten Luwu Timur saat menerima kunjungan Dinas Kominfo-SP dan beberapa Media Partner di Aula Dinas P2KB, Rabu (12/10/2022).
Terkait program KB sendiri, kata Suliati, capaiannya bagaimana angka ber-KB, angka Prevalensi Kontrasepsi modern dalam hal ini penggunaan alat kontrasepsi modern. “Jadi yang dikenal alat kontrasepsi moderen seperti kondom, pil, implan, suntik, ayudi, ada juga kontrasepsi MOW dan MOP. MOW/tubektomi dan MOP/vasektomi untuk suami,” kata Suliati.
Inilah yang saat ini pihaknya genjot, karena pada tahun 2021 masih ada pada realisasi 56,90% dari jumlah pasangan usia subur yang ada di Luwu Timur, smeentara yang ber-KB sekitar 56%, jadi belum semuanya.
“Kalau semua usia sudah ber-KB, Alhamdulillah, artinya kinerja kami sudah bagus sekali. Tapi karena memang sudah begini hasilnya jadi masih membutuhkan kegiatan-kegiatan dan program supaya sesuai dengan target harus tercapai dan kesadaran masyarakat untuk mengikuti program KB ini bisa meningkat lagi dengan memanfaatkan kegiatan-kegiatan penyuluhan bahwa program KB ini sangat penting untuk yang paling utama kesehatan ibunya dan anaknya,” bebernya.
Menurut Suliati, ber-KB dapat menjaga kesehatan ibu dan anak. Jangan sampai baru sudah melahirkan terus tidak ber-KB, ibunya hamil lagi, ini resikonya banyak sehingga angka kematian ibu juga mempengaruhi untuk bagaimana sering-seringnya melahirkan.
“Untuk presentasi penggunaan kontrasepsi jangka panjang, jadi di KB itu ada beberapa alat kontrasepsi tetapi didalamnya juga ada jangka panjangnya, yang jangka pendeknya itu seperti suntik dan pil dengan kondom. Sementara yang jangka panjang seperti spiral, ayudi, susuk atau implan yang kita kenal biasa di masyarakat, kemudian MOW dan MOP juga untuk pria,” kata Kabid KB.
Terakhir, dirinya menjelaskan bahwa, persentase kebutuhan ber-KB masyarakat ada yang tidak terpenuhi disebabkan karena pelayanannya yang jauh aksesnya dari tempat pelayanan KB, ada juga yang ber-KB karena menganggap dirinya hampir menopause atau hampir tidak akan hamil, padahal sebenarnya masih beresiko untuk hamil, karena apabila seorang ibu itu masih menstruasi bisa dikatakan itu masih masa subur.
“Inilah yang kami lakukan terus yakni meningkatkan penyuluhan-penyuluhan dan pemahaman kepada masyarakat agar mau ikut ber-KB,” tandas Suliati. (*)




