Anggota DPRD Luwu Timur, Sarkawi Hamid, menyoroti serius persoalan rendahnya serapan gabah petani yang terjadi setiap musim panen. Ia menilai kondisi ini menyebabkan posisi tawar petani semakin lemah dan membuat harga gabah mudah dimainkan tengkulak dari luar daerah.
Menurut Sarkawi, luas persawahan di Luwu Timur mencapai sekitar 24.000 hektare dengan produksi gabah rata-rata 160.000 ton per musim. Dengan rendemen sekitar 50 persen, total produksi beras mencapai 80.000 ton per musim.
Namun kapasitas industri penggilingan lokal masih jauh dari memadai. “Penggilingan yang ada hanya mampu menyerap sekitar 30 persen atau 48.000 ton. Artinya, 112.000 ton gabah atau 70 persen keluar dan dikelola pengusaha luar daerah,” ujar Sarkawi.
Ia menegaskan bahwa arus keluar gabah dalam jumlah besar ini mengakibatkan daya tawar petani lokal melemah karena tidak memiliki akses pengolahan yang cukup.
“Selama tidak ada industri penggilingan yang kuat, maka petani kita akan selalu bergantung pada pasar luar,” tambahnya.
Dia menyebut, perlu ada solusi konkrit agar serapan gabah petani tidak lagi terjual ke luar daerah dengan menambah jumlah kapasitas produksi penggilingan padi di Luwu Timur.



