Luwuraya.comLuwuraya.comLuwuraya.com
  • Berita
    • Metro
    • Hukum
    • Politik
    • Ekonomi
    • Pendidikan
    • Luwu Timur
    • DPRD Luwu Timur
  • Wisata
    • Budaya
    • Kuliner
    • Rekreasi
  • Infografis
  • Lifestyle
    • Fashion
    • Hoby
    • Komunitas
  • Lainnya
    • Foto
    • Video
    • Opini
    • Sport
Font ResizerAa
Luwuraya.comLuwuraya.com
Font ResizerAa
Cari
  • Berita
    • Metro
    • Hukum
    • Politik
    • Ekonomi
    • Pendidikan
    • Luwu Timur
    • DPRD Luwu Timur
  • Wisata
    • Budaya
    • Kuliner
    • Rekreasi
  • Infografis
  • Lifestyle
    • Fashion
    • Hoby
    • Komunitas
  • Lainnya
    • Foto
    • Video
    • Opini
    • Sport
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Pengaduan
  • Redaksi
  • Tentang Kami
Beranda » Berita » Anggaran MBG Tembus Ratusan Triliun, Pengamat: Solusi Gizi atau Beban Baru APBN?
Opini

Anggaran MBG Tembus Ratusan Triliun, Pengamat: Solusi Gizi atau Beban Baru APBN?

Redaksi
Redaksi Published 8 April 2026
Share
7 Min Read
SHARE
Penulis: Sayidah Nabila, Ekonomi Syariah, Pascasarjana UIN Palopo

Dari Rp71 triliun di awal hingga Rp335 triliun di APBN 2026 — program makan bergizi gratis tumbuh luar biasa cepat, namun kini menjadi ujian besar bagi ketahanan fiskal negara.

Contents
Perjalanan Anggaran yang Terus MembengkakKlaim Pemerintah: Investasi, Bukan Sekadar Makan SiangPara Pengamat Angkat Tangan: Ada Yang Salah?Dua Sisi Mata Uang: Pro & Kontra MBGBukan Hanya Soal Uang: Masalah di LapanganJalan Tengah yang ditawarkan Para Ekonom
  • APBN 2025 Awal: Rp71 T, Alokasi Perdana Makan
  • Realisasi 2025: Rp171 T, Setelah tambahan anggaran
  • APBN 2026: Rp268 T – Rp335 T, Lembaga anggaran terbesar
  • Target penerima: 82,9 Jt, yaitu siswa, ibu hamil, dan balita

Program Makan Bergizi Gratis (MBG), andalan kampanye Presiden Prabowo Subianto — telah bermetamorfosis menjadi salah satu program belanja negara terbesar dalam sejarah Indonesia. Dalam waktu kurang dari dua tahun, anggarannya melonjak hampir lima kali lipat, dari Rp71 triliun menjadi Rp335 triliun. Pertanyaan yang kini menggantung di tengah publik dan para ekonom: apakah ini investasi masa depan bangsa, atau bom waktu fiskal yang siap meledak?

Perjalanan Anggaran yang Terus Membengkak

Ketika MBG resmi diluncurkan pada 6 Januari 2025, pemerintah telah menyiapkan Rp71 triliun dalam APBN — angka yang tampak besar, namun ternyata belum cukup. Hanya tiga minggu berjalan, muncul wacana penambahan Rp100 triliun untuk memperluas jangkauan dari 17 juta menjadi 82,9 juta penerima.

  • 6 Januari 2025 – MBG resmi diluncurkan di 190 titik SPPG di 26 provinsi. Anggaran awal Rp71 triliun dari APBN 2025.
  • Januari–Juni 2025 – Menko Pangan Zulkifli Hasan mengungkap anggaran Rp71 T hanya cukup hingga Juni. Tambahan Rp140 triliun diajukan untuk Juli–Desember 2025.
  • Agustus 2025 – Presiden Prabowo dalam pidato kenegaraan mengumumkan anggaran MBG 2026 mencapai Rp335 triliun, menjadikan BGN lembaga dengan anggaran terbesar.
  • Februari 2026 – Defisit APBN sudah mencapai Rp135,7 triliun — naik 342% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. MBG disebut sebagai pendorong utama lonjakan belanja.
  • Maret–April 2026 – Wacana Perppu pelebaran defisit di atas 3% PDB mencuat. Koalisi masyarakat sipil gugat UU APBN 2026 ke Mahkamah Konstitusi, menyoroti beban MBG pada ruang fiskal.

Klaim Pemerintah: Investasi, Bukan Sekadar Makan Siang

Pemerintah berulang kali menegaskan bahwa MBG bukan program konsumtif biasa. Presiden Prabowo menyebut program ini sebagai fondasi untuk membangun generasi unggul, menekan stunting, dan menciptakan efek berantai bagi petani, nelayan, peternak, dan pelaku UMKM. Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara menyatakan bahwa hingga akhir 2025, program MBG telah menjangkau 50,7 juta penerima manfaat setiap hari.

“Kita bangun generasi unggul anak-anak kita melalui MBG. Generasi unggul lahir dari tubuh yang sehat dengan gizi yang terpenuhi.” — Presiden Prabowo Subianto, Pidato Kenegaraan, 15 Agustus 2025

Kementerian Keuangan juga mencatat bahwa setiap tambahan Rp100 triliun anggaran MBG diperkirakan berkontribusi sekitar 0,7% terhadap PDB, dengan keterlibatan sekitar 185 ribu tenaga kerja dan pengurangan kemiskinan sebesar 0,19 poin persentase. Sementara itu, Mendikdasmen Abdul Mu’ti menegaskan bahwa program MBG tidak mengurangi anggaran pendidikan, dan seluruh program strategis pendidikan tetap berjalan.

Para Pengamat Angkat Tangan: Ada Yang Salah?

Di balik narasi pemerintah, deretan ekonom dan lembaga kajian mulai menyuarakan kekhawatiran serius. Direktur Eksekutif Celios Bhima Yudhistira menyebut lonjakan defisit APBN awal 2026 ibarat “lampu kuning mau merah”, dan memprediksi anggaran bisa defisit hingga Rp340 triliun sepanjang tahun seiring naiknya harga minyak dunia.

“Defisitnya naik 4 kali dibanding Februari 2025. Pelebaran defisit terlalu cepat bisa buat ruang untuk jaga subsidi energi makin tipis.” — Bhima Yudhistira, Direktur Eksekutif Celios, Maret 2026

Senada dengan itu, Direktur Eksekutif Core Indonesia Mohammad Faisal meminta pemerintah menghemat pengeluaran tak perlu, dan menyarankan MBG difokuskan hanya untuk siswa tidak mampu agar beban APBN lebih ringan. Ekonom Universitas Indonesia Kiki Verico bahkan secara eksplisit menyatakan bahwa pemerintah perlu memangkas belanja berlebihan, termasuk MBG dan Koperasi Merah Putih. Dari dalam INDEF, Abdul Manap mendorong restrukturisasi fiskal dengan meninjau kembali besaran anggaran MBG sebagai pos anggaran terbesar dalam fiskal 2026. Lembaga pemeringkat internasional pun tidak tinggal diam. Fitch Ratings memproyeksikan defisit anggaran Indonesia bisa mencapai sekitar 2,9% pada 2026 — lebih tinggi dari target APBN 2,69%. Skenario pesimistis Kemenkeu sendiri memperkirakan defisit bisa menyentuh 4,06% PDB atau sekitar Rp1.004 triliun jika harga minyak global terus melonjak.

Dua Sisi Mata Uang: Pro & Kontra MBG

Bukan Hanya Soal Uang: Masalah di Lapangan

Kerumitan MBG tidak hanya terletak pada angka. Di lapangan, program ini mencatat lebih dari 10.000 kasus keracunan massal sepanjang 2025, dengan insiden terbesar menimpa 1.333 pelajar di Bandung Barat sekaligus. Indonesia Corruption Watch (ICW) pun merilis temuan bahwa ratusan yayasan mitra SPPG diduga memiliki koneksi dengan perangkat negara, sementara ribuan dapur “fiktif” teridentifikasi — ada akun terdaftar namun tidak ada fisiknya.

Pengurus LTN PBNU Sofian Junaidi Anom mempertanyakan apakah anggaran ratusan triliun itu benar-benar sampai ke perut siswa dalam bentuk gizi berkualitas. Menurutnya, struktur anggaran dengan pagu bahan baku yang sangat ketat dan pelimpahan ke yayasan-yayasan pengelola dapur menjadi celah kerawanan yang nyata.

Jalan Tengah yang ditawarkan Para Ekonom

Alih-alih membatalkan program, sebagian besar pengamat mendorong reformasi desain MBG. Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI) merekomendasikan agar program difokuskan terlebih dahulu di wilayah 3T (tertinggal, terdepan, terluar) dan daerah dengan stunting tertinggi. Ekonom Riza mengusulkan skema pembiayaan kolaborasi antara pemerintah, swasta, dan lembaga filantropi agar beban APBN lebih ringan. Direktur Ekonomi Digital Celios Nailul Huda mengingatkan bahwa jika program tetap dipaksakan dengan kapasitas fiskal yang terbatas, defisit anggaran berpotensi melampaui batas 3% dari PDB.

Pada akhirnya, perdebatan soal MBG mencerminkan dilema klasik kebijakan publik: antara ambisi sosial yang mulia dan kapasitas fiskal yang terbatas. Program ini bisa menjadi warisan besar pemerintahan Prabowo — atau menjadi beban berat yang diwariskan kepada generasi berikutnya. Jawabannya sangat bergantung pada kemauan politik untuk melakukan reformasi tata kelola secara serius, cepat, dan transparan.

Baca Juga Berita Rekomendasi Lainnya

Bupati Luwu Timur Sholat Idul Fitri 1443 H di Andi Nyiwi Park Malili

Akhir Tahun, Pasien Sembuh Bertambah 18 Orang dan 27 Kasus Baru

Jayadi Nas Buka Acara Tabligh Akbar “Luwu Timur Menjemput Hidayah”

Evaluasi Kinerja Perangkatnya, Kades Solo Rutin Gelar Apel Pagi

Judas: Pakai Otak Kalau Menilai Kinerja Pemerintah

Share This Article
Facebook X Copy Link Print
Previous Article Jaksa Beri Edukasi Hukum Kepada Pelajar, Bahaya Narkoba hingga Judi Online Jadi Sorotan
Next Article 229 Siswa SMPN 1 Mangkutana Ikuti Tes Kemampuan Akademik

You Might Also Like

Luwu Timur

Bupati Lutim : Halal Bi Halal Momentum Silaturahmi dan Saling Memberi Dukungan

18 Mei 2022
Hukum

Siswa SMK Tagari Jadi Korban Rusuh Palopo

1 April 2013
Metro

17 Pemuda Dikabarkan Hilang, Keluarga Panik

20 Juli 2015
Luwu Timur

Bupati Luwu Timur Letakkan Batu Pertama Pembangunan Tiga Unit Sekolah Baru

29 Agustus 2021
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Pengaduan
  • Redaksi
  • Tentang Kami
Menu
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Pengaduan
  • Redaksi
  • Tentang Kami
© Kawal Media Consulting. Luwuraya Media Kreatif. All Rights Reserved.
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?