PT Vale Indonesia mencatat capaian positif pada triwulan pertama tahun 2026. Di tengah penurunan produksi nikel matte, perusahaan justru berhasil membukukan laba bersih sebesar USD43,6 juta atau melonjak 85 persen dibanding triwulan sebelumnya yang tercatat USD23,6 juta.
Kinerja ini menjadi sorotan karena produksi nikel matte PT Vale pada periode Januari–Maret 2026 turun menjadi 13.620 metrik ton, lebih rendah dibanding triwulan IV 2025 sebesar 17.052 ton. Namun penurunan volume produksi tidak menghalangi pertumbuhan laba perusahaan.
Lalu apa penyebabnya?
Dalam laporan resmi PT Vale Indonesia, faktor utama datang dari kenaikan harga jual nikel dunia. PT Vale mencatat harga rata-rata realisasi nikel matte sebesar USD14.213 per ton pada triwulan I 2026, naik 15 persen dibanding triwulan sebelumnya yang berada di level USD12.308 per ton. Kenaikan harga tersebut berdampak langsung pada pendapatan perusahaan yang mencapai USD252,7 juta.
Selain itu, perusahaan juga mampu menjaga efisiensi operasional dan disiplin biaya. PT Vale menyebut harga rata-rata bahan bakar utama seperti HSFO, diesel, dan batu bara mengalami penurunan, sehingga membantu menekan beban operasional di tengah tantangan pasar global.
Dari sisi profitabilitas, EBITDA PT Vale tercatat sebesar USD80,1 juta atau naik 29 persen dibanding triwulan IV 2025 sebesar USD61,9 juta. Angka ini menunjukkan kemampuan perusahaan menjaga margin usaha meski produksi sedang mengalami penyesuaian.
Manajemen menjelaskan turunnya produksi terjadi sesuai rencana perusahaan seiring pelaksanaan pemeliharaan terjadwal, termasuk pembangunan kembali Furnace 3 yang ditargetkan selesai pada semester pertama 2026. Selain itu, proses persetujuan RKAB 2026 juga memberi dampak terhadap ritme produksi awal tahun.
CEO dan Presiden Direktur PT Vale Bernardus Irmanto menegaskan perseroan tetap mampu menunjukkan daya tahan bisnis di tengah ketidakpastian global.
“Terlepas dari tantangan yang terus berlanjut dan lingkungan operasional yang tidak pasti, kami terus menunjukkan kemampuan kami untuk mempertahankan margin positif dan disiplin keuangan,” ujarnya.



