Mengapa Pemprov Sulsel Bangun RS Regional Luwu Lewat Skema MYP?

Asdhar
5 Min Read
Gubernur Sulsel, Andi Sudirman Sulaiman saat meninjau salah satu ruas jalan yang dibangun dengan skema MYP (Sumber: Humas Pemprov Sulsel)
×

Terima Kasih Atas Dukungan Anda!

Anda akan dialihkan ke halaman SociaBuzz resmi kami untuk memberikan dukungan.

Buka Halaman Dukungan

LUWURAYA.COM — Pembangunan RS Regional Wilayah Utara di Kabupaten Luwu menjadi salah satu proyek penting dalam program Multi Years Project (MYP) Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan.

Proyek tersebut masuk dalam program pembangunan infrastruktur senilai Rp3,7 triliun yang dikerjakan melalui skema tahun jamak 2025–2027. Selain rumah sakit, MYP mencakup pembangunan dan penanganan jalan serta jaringan irigasi di sejumlah wilayah Sulsel.

Pertanyaannya, mengapa Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan memilih skema MYP?

Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman menyebut ada empat alasan Pemprov memilih skema multiyears dibandingkan penganggaran tahun tunggal.

Alasan pertama berkaitan dengan ketuntasan pembangunan.

Menurut Andi Sudirman, proyek berskala besar seperti rumah sakit membutuhkan waktu lebih panjang agar bangunan utama dan berbagai fasilitas pendukung dapat diselesaikan secara utuh.

Ia mencontohkan pembangunan rumah sakit yang tidak cukup hanya dengan mendirikan bangunan utama. Masih ada berbagai fasilitas penunjang yang harus disiapkan agar rumah sakit dapat berfungsi secara optimal.

“Waktu satu tahun itu tidak cukup untuk membangun. Misalnya rumah sakit. Pembangunan fisik tahun ini, tapi masih banyak saja supporting facility gedung-gedungnya masih belum ditambahkan,” kata Andi Sudirman.

RS Regional Luwu Jadi Contoh

RS Regional Wilayah Utara akan dibangun di Kecamatan Bua, Kabupaten Luwu. Rumah sakit ini dirancang untuk memperluas layanan rujukan bagi masyarakat Luwu Raya dan daerah sekitarnya.

Pemprov Sulsel menyebut penetapan Kabupaten Luwu sebagai lokasi rumah sakit dilakukan berdasarkan kajian mengenai pergerakan pelayanan, aksesibilitas, dan kebutuhan masyarakat di kawasan tersebut.

Proyek ini diperkirakan membutuhkan anggaran lebih dari Rp200 miliar. Nilai tersebut mencakup tahapan perencanaan, pembangunan fisik hingga pengadaan alat kesehatan berstandar nasional.

RS tersebut dirancang sebagai rumah sakit rujukan kawasan Luwu Raya dengan pelayanan spesialistik dan subspesialistik.

Layanan yang direncanakan antara lain penyakit dalam, kebidanan dan kandungan, anak, kanker, jantung dan pembuluh darah, hipertensi, uronefrologi, THT, serta mata.

Fasilitasnya juga dirancang mencakup IGD, bedah sentral, layanan jantung terpadu, layanan ibu dan anak termasuk NICU, rehabilitasi medik, radiologi, CT Scan, laboratorium terpadu, farmasi dan gizi.

Selain itu, terdapat fasilitas intensif seperti ICU, HCU, ICCU dan PICU serta layanan telemedicine.

Besarnya cakupan pekerjaan tersebut menjadi salah satu gambaran mengapa pembangunan rumah sakit membutuhkan perencanaan dan waktu pengerjaan yang tidak sederhana.

Empat Alasan Memilih MYP

Alasan kedua yang disampaikan Gubernur adalah efisiensi biaya dan waktu pengadaan.

Menurut dia, pekerjaan dengan nilai besar dapat ditender dalam satu paket sehingga tidak perlu berulang kali melakukan proses pengadaan untuk paket-paket kecil.

Andi Sudirman membandingkannya dengan satu kali lelang paket Rp500 miliar dibandingkan sepuluh kali lelang masing-masing Rp50 miliar. Menurutnya, penganggaran yang berulang dapat menimbulkan inefisiensi.

Alasan ketiga adalah membuka peluang bagi kontraktor berskala nasional.

Gubernur mengatakan nilai paket yang besar memungkinkan perusahaan dengan kapasitas lebih besar ikut dalam proses pengadaan. Pemprov, kata dia, juga mewajibkan kandungan lokal 40 persen agar perusahaan lokal tetap dapat terlibat.

Sementara alasan keempat berkaitan dengan kemampuan pemerintah mengatur pembayaran proyek.

Dengan kontrak tahun jamak, pembayaran dapat direncanakan secara berkala mengikuti perkembangan pekerjaan dan kemampuan fiskal daerah.

Andi Sudirman mengatakan skema tersebut memungkinkan pemerintah menyusun arus pembayaran hingga dua atau tiga tahun sehingga risiko gagal bayar dapat ditekan.

Artinya, MYP bagi Pemprov Sulsel bukan semata-mata memperpanjang waktu pembangunan. Skema ini digunakan untuk menyesuaikan pekerjaan proyek besar dengan kebutuhan pembangunan, proses pengadaan, kemampuan kontraktor, serta pengaturan keuangan daerah.

Bukan Hanya Rumah Sakit

RS Regional Luwu hanya salah satu bagian dari MYP Sulsel 2025–2027.

Secara keseluruhan, program tersebut mencakup penanganan sekitar 1.000 kilometer jalan, jaringan irigasi yang melayani sekitar 54.000 hektare sawah, serta pembangunan dua rumah sakit regional di Gowa dan Luwu. Total anggarannya mencapai Rp3,7 triliun dan bersumber dari hasil efisiensi APBD.

Di kawasan Luwu, pembangunan jalan juga menjadi bagian dari program MYP. Paket 6 MYP Regional Luwu bernilai sekitar Rp239 miliar dan mencakup 20 ruas jalan di sembilan daerah, termasuk Kabupaten Luwu, Toraja Utara, Tana Toraja, Palopo, hingga Makassar.

Salah satu ruas yang menjadi perhatian adalah Bua–Rantepao. Jalan tersebut dinilai strategis karena menjadi akses menuju Bandara Bua sekaligus menghubungkan kawasan Luwu dengan Toraja.

Luwuraya berkomitmen untuk terus berdiri sebagai rumah informasi yang jujur dan objektif bagi masyarakat luas. Namun, kami tidak bisa berjalan sendirian. Kami memanggil semangat gotong royong khas kita. Jika hari ini berita kami pernah menemani, mengedukasi, atau memberi manfaat untukmu, sudilah kiranya meluangkan sedikit rezeki untuk "mentraktir kopi" tim di balik layar.

Share This Article
PNFPB Install PWA using share icon

For IOS and IPAD browsers, Install PWA using add to home screen in ios safari browser or add to dock option in macos safari browser