LUWURAYA.COM — Temuan Bupati Luwu Timur Irwan Bachri Syam soal siswa yang masih belajar melantai kini menemukan titik terang.
Siswa yang dimaksud ternyata berada di SMP Negeri 1 Tomoni Timur. Persoalannya bukan karena sekolah tidak memiliki ruang kelas, melainkan empat ruang kelas baru (RKB) telah selesai dibangun, namun belum dilengkapi meja dan kursi.
Kondisi itu membuat ruang kelas yang sebenarnya sudah tersedia belum bisa digunakan secara ideal. Sekolah pun memanfaatkan fasilitas seadanya agar proses belajar mengajar tetap berjalan.
Data kondisi ruang sekolah menunjukkan terdapat 21 ruang kelas asli. Dari jumlah tersebut, empat ruang tercatat belum memiliki meja dan kursi.
Kondisi inilah yang membuat sebagian siswa harus mengikuti pembelajaran dengan fasilitas yang jauh dari ideal.
Bupati Perintahkan Meja dan Kursi Segera Ada
Persoalan siswa belajar sambil melantai mendapat perhatian langsung dari Bupati Luwu Timur.
Ia meminta Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Luwu Timur segera berkoordinasi untuk menyelesaikan kebutuhan mobilier di sekolah tersebut.
“Segera koordinasikan antara Kabid dan Kadis. Saya minta minggu depan fasilitas meja dan kursi sudah terealisasi untuk sekolah yang siswanya masih belajar di lantai,” perintah Irwan.
Perintah itu sekaligus memberi batas waktu penyelesaian. Persoalan fasilitas yang ditemukan pada awal September ini ditargetkan tidak berlarut-larut.
Kondisi di SMPN 1 Tomoni Timur juga menunjukkan bahwa persoalan fasilitas pendidikan tidak selalu soal ada atau tidaknya bangunan.
Ruang kelas baru memang sudah tersedia. Namun, tanpa meja dan kursi, ruang tersebut belum sepenuhnya siap digunakan sebagaimana mestinya.
Bagi siswa, meja dan kursi bukan sekadar pelengkap ruang kelas. Fasilitas tersebut menjadi bagian penting agar proses belajar berlangsung lebih nyaman dan layak.
Sekolah Diminta Perbarui Data Sarpras Secara Real-Time
Selain meminta kebutuhan meja dan kursi segera dipenuhi, Bupati Irwan juga meminta seluruh sekolah lebih serius memperbarui data kondisi sarana dan prasarana.
Ia meminta pihak sekolah melakukan penginputan kondisi sarpras secara nyata dan real-time melalui aplikasi One Data Dikbud Luwu Timur.
Langkah ini diperlukan agar pemerintah memiliki gambaran yang lebih jelas mengenai kondisi fasilitas setiap sekolah, termasuk tingkat kerusakannya.
“Penginputan data secara nyata pada aplikasi One Data Dikbud Luwu Timur. Data tersebut membantu pemerintah mengklasifikasikan tingkat kerusakan baik ringan, sedang, maupun berat. Sehingga program perbaikan dapat dilakukan secara tepat sasaran,” ujar Irwan.
Dengan data tersebut, pemerintah tidak hanya mengetahui sekolah mana yang membutuhkan perbaikan, tetapi juga dapat melihat tingkat kerusakannya.
Data yang diperbarui secara berkala juga menjadi penting untuk menentukan sekolah mana yang perlu mendapat perhatian lebih dulu.
Luwuraya berkomitmen untuk terus berdiri sebagai rumah informasi yang jujur dan objektif bagi masyarakat luas. Namun, kami tidak bisa berjalan sendirian. Kami memanggil semangat gotong royong khas kita. Jika hari ini berita kami pernah menemani, mengedukasi, atau memberi manfaat untukmu, sudilah kiranya meluangkan sedikit rezeki untuk "mentraktir kopi" tim di balik layar.

