Satu keluarga di Luwu, tinggal di Kandang Sapi

2 Min Read

Sampara bersama istri dan anak-anaknya, sudah dua tahun tinggal menetap di kandang sapi milik Abdul Rahman. Keluarga kecil ini, terpaksa tinggal di kandang sapi, karena kondisi rumahnya yang lapuk dan sudah tidak layak huni.

Sampara tercatat sebagai warga di Desa Salu Paremang Selatan, Kecamatan Kamanre, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan. Selain kondisi eknominya yang serba kekurangan, Sampara harus menanggung beban lain. Istrinya, Suri, sudah dua tahun menderita sakit. Satu kakinya tak bisa digunakan berjalan, akibat penyakit gula.

“Lihat saja kondisi rumah kami pak, sudah tidak mungkin kami tempati. Untung ada warga yang berbaik hati, memberi kami tumpangan, meskipun hanya kandang sapi,” kata Suri, sambil meneteskan air mata, Kamis 11/02/20.

Meskipun tercatat sebagai warga miskin, keluarga sampara, luput dari perhatian Pemerintah. Bantuan beras miskin dan bantuan lainnya, sudah tidak diperolehnya.”Kalau beras habis, kami makan pisnag dari kebun tetangga, sekedar penganjal perut agar tidak kelaparan,” ujarnya.

Dia berharap, Pemerintah Kabupaten Luwu, bisa memberinya bantuan rumah layak huni, agar tidak lagi tinggal di kandang sapi.

Sementara Rahman, pemilik kandang sapi yang ditempati Sampara bersama keluarganya, mengaku prihatin dan merelakan kandang sapinya, digunakan oleh Sampara. “Hidupnya berpindah-pindah, sebelum di kandang sapi, keluarga ini tinggal di rumah kebun, sementara rumahnya yang dulu, sudah rusak dan tidak bisa ditempati lagi,” kata Rahman.

Adapun Fatmawati, Kepala Desa Salu Paremang Selatan, belum merespon, saat dikonfirmasi, terkait warganya yang tinggal di kandang sapi.

TAGGED:
Share This Article
Asdhar adalah jurnalis yang telah mengabdikan dirinya di dunia pers sejak 2007. Lebih dari sekadar profesi, jurnalistik baginya adalah ruang untuk merawat akurasi, menjaga nalar publik, dan memastikan setiap informasi sampai kepada masyarakat dengan jernih dan bertanggung jawab. Perjalanan kariernya ditempa di Harian Seputar Indonesia, sebelum kemudian memperluas cakrawala peliputan di Kompas TV. Pengalaman lintas platform ini membentuknya sebagai jurnalis yang adaptif, tajam dalam membaca isu, serta mampu menerjemahkan peristiwa kompleks menjadi informasi yang mudah dipahami tanpa kehilangan kedalaman. Dengan lebih dari satu dekade pengalaman, dia menempatkan integritas sebagai fondasi utama dalam setiap karya jurnalistiknya. Ia percaya bahwa media bukan hanya menyampaikan berita, tetapi juga membangun kepercayaan publik melalui konsistensi, keberimbangan, dan keberanian dalam menyuarakan fakta.