LUWURAYA.COM – Kebakaran tidak hanya membuat keluarga kehilangan harta benda. Bagi siswa, musibah juga dapat mengganggu kegiatan belajar dan memengaruhi kondisi psikologis mereka.
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan bersama Kelompok Kerja Kepala Sekolah se-Kabupaten Luwu Timur mendatangi korban kebakaran di empat wilayah. Mereka menyerahkan bantuan, terutama kepada siswa yang terdampak musibah.
Kepala Disdikbud Luwu Timur Raoda K memimpin penyaluran bantuan tersebut, Kamis (20/8/2026). Rombongan mengunjungi lokasi terdampak di Malili, Angkona, Wotu, dan Tomoni.
Kabid Dikdas Disdikbud Luwu Timur Agus Saman, Ketua K3S Luwu Timur Hardianto, serta Bendahara Rani Rais turut mendampingi. Mereka menemui langsung keluarga korban di masing-masing wilayah.
Raoda mengatakan sekolah perlu hadir saat peserta didik menghadapi musibah. Dukungan itu tidak hanya berbentuk bantuan, tetapi juga perhatian moral agar siswa tetap memiliki semangat untuk belajar.
“Ini merupakan bentuk kepedulian sosial kami bersama K3S. Kami ingin memastikan siswa yang terdampak musibah tetap mendapatkan perhatian,” kata Raoda.
Sekolah Diajak Bangun Kepedulian Berkelanjutan
Raoda menilai lingkungan pendidikan memiliki peran yang lebih luas dari proses belajar di ruang kelas. Ketika siswa menghadapi situasi sulit, sekolah dan komunitas pendidikan dapat membantu meringankan beban keluarga.
Karena itu, ia mengimbau sekolah di Luwu Timur membangun gerakan sosial secara berkelanjutan. Salah satu bentuknya melalui sedekah Jumat yang dapat digunakan untuk membantu siswa atau keluarga siswa yang tertimpa musibah.
“Dalam kesempatan ini, saya juga mengimbau sekolah-sekolah menginisiasi kegiatan sosial. Misalnya lewat sedekah Jumat yang dananya bisa digunakan ketika ada siswa yang tertimpa musibah,” ujarnya.
Gerakan semacam ini dapat menjadi penyangga awal ketika siswa mengalami keadaan darurat. Selain membantu kebutuhan dasar, kepedulian sekolah juga dapat menjaga anak tetap merasa didukung untuk melanjutkan pendidikan.
Bantuan kepada korban kebakaran di Malili, Angkona, Wotu, dan Tomoni memperlihatkan bahwa pemulihan siswa tidak hanya menjadi urusan keluarga. Gotong royong sekolah, orang tua, dan masyarakat dapat membantu anak menghadapi masa sulit tanpa kehilangan akses dan semangat belajar.
Luwuraya berkomitmen untuk terus berdiri sebagai rumah informasi yang jujur dan objektif bagi masyarakat luas. Namun, kami tidak bisa berjalan sendirian. Kami memanggil semangat gotong royong khas kita. Jika hari ini berita kami pernah menemani, mengedukasi, atau memberi manfaat untukmu, sudilah kiranya meluangkan sedikit rezeki untuk "mentraktir kopi" tim di balik layar.

